Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sekalipun Minim Sentimen Pendukung, Rupiah Tetap Menguat

Nilai tukar rupiah diprediksi masih akan melanjutkan tren penguatannya untuk perdagangan besok (8/06/2021).
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 07 Juni 2021  |  15:47 WIB
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Senin (7/6/2021).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah naik 30 poin atau 0,27 persen ke level Rp14.265 per dolar AS. Sedangkan, indeks dolar AS terpantau menguat 0,01 persen pada posisi 90,149.

FX Senior Dealer Bank Sinarmas Deddy mengatakan, penguatan nilai tukar rupiah mengikuti mata uang utama yang juga menguat terhadap dolar AS. Tren positif ini juga terjadi ditengah minimnya data domestik yang dirilis.

Ia menambahkan, katalis utama penguatan rupiah pada hari ini adalah sikap investor yang tengah menanti rilis data cadangan devisa (cadev) Indonesia pada Selasa (8/6/2021) besok. Deddy memprediksi, cadev Indonesia akan lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.

Seiring dengan hal tersebut, Deddy memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan melanjutkan tren penguatannya untuk perdagangan besok. Meski demikian, penguatan rupiah diprediksi akan terbatas.

“Kemungkinan rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.200 hingga Rp14.300 untuk besok," katanya saat dihubungi Bisnis pada Senin (7/6/2021).

Sementara itu, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menambahkan, sentimen lain yang mempengaruhi pergerakan rupiah adalah rencana Kementerian Keuangan untuk meningkatkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Kemenkeu juga telah mengusulkan tarif PPN baru sebesar 12%, naik 2% dibandingkan dengan tarif yang selama ini berlaku yakni sebesar 10%.

Tarif baru ini masuk ke dalam salah satu cakupan Rancangan Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP). Angka 12% diusulkan setelah otoritas fiskal melakukan pengkajian secara mendalam dari berbagai aspek.

Dari luar negeri, rilis data ketenagakerjaan menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS. Data ketenagakerjaan AS pada bulan Mei mencatat kenaikan lapangan kerja sebesar 559.000, berada dibawah ekspektasi sejumlah ekonom.

Meski demikian, dengan catatan tersebut, AS melanjutkan kenaikan jumlah tenaga kerja. Hasil tersebut juga membawa angka penganggguran AS turun 5,8 persen.

Perhatian investor juga tertuju pada komentar Menteri Keuangan AS, Janet Yellen terhadap rencana stimulus lanjutan. Pada Minggu kemarin, Yellen menyarankan Presiden Joe Biden untuk tetap mengajukan anggaran belanja sebesar US$4 triliun meski dapat memicu kenaikan inflasi hingga tahun depan.

Pada kesempatan yang sama, Yellen juga mengatakan bahwa kondisi suku bunga acuan yang tinggi akan menjadi nilai tambah bagi perekonomian.

Fokus investor saat ini adalah pada angka indeks harga konsumen (CPI) yang akan dirilis akhir pekan ini. Angka-angka tersebut dapat mempengaruhi langkah Fed selanjutnya karena lebih lanjut mengukur tekanan harga saat ini. Angka yang lebih rendah dari perkiraan bisa berarti penurunan lebih lanjut untuk mata uang dolar AS.

Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak pada rentang Rp14.240 hingga Rp14.290 untuk perdagangan besok.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Rupiah Kurs Rupiah
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top