Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Stimulus Jadi Bahan Bakar Pemulihan Sektor Properti

Sepanjang tahun ini sektor properti masih belum bangkit, apalagi sejak terdampak oleh kondisi pandemi yang mulai merebak pada 2020 lalu.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 31 Mei 2021  |  05:00 WIB
Wajah properti Jakarta, 2 Mei 2019. - Reuters
Wajah properti Jakarta, 2 Mei 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Beragam stimulus untuk sektor properti dan real estat diharapkan dapat menopang kinerja emiten-emiten sektor tersebut untuk paruh kedua tahun ini dan mendorong saham-saham properti & real estat kembali hijau.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per penutupan perdagangan Jumat (28/5/2021), indeks IDX Sector Property & Real Estat terpantau mengalami koreksi 14,91 persen secara year to date sekaligus menjadi sektor dengan kinerja paling buruk di antara lainnya.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan sepanjang tahun ini sektor properti masih belum bangkit, apalagi sejak terdampak oleh kondisi pandemi yang mulai merebak pada 2020 lalu.

“Selama pandemi properti tertekan karena orang lebih berhemat salah satunya dengan nggak beli properti dulu. Sehingga ini jadi salah satu sektor paling terpukul,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (28/5/2021)

Meskipun demikian, Hans menyebut masih ada harapan untuk sektor properti, mengingat ada sejumlah insentif yang diberikan untuk sektor ini, seperti pemangkasan pajak pertambahan nilai (PPN) dari pemerintah sebesar 50 persen untuk rumah dengan harga maksimal Rp5 miliar.

Kemudian Bank Indonesia juga ikut memberi stimulus berupa regulasi yang memungkinkan perbankan dengan non-performing loan (NPL) di bawah 5 persen untuk memberi kredit pemilihan rumah (KPR) dengan uang muka atau down payment (DP) sebesar 0 persen.

Hans menilai kedua stimulus ini diharapkan dapat sedikit mendongkrak kinerja emiten-emiten properti & real estat di paruh kedua tahun ini, sehingga pada akhirnya ikut mengerek kinerja sektoral. 

Ini terutama untuk emiten yang memiliki stok property ready stok cukup banyak karena batas waktu dari stimulus tersebut terbilang cukup singkat yakni hingga periode Agustus 2021 saja. 

“Kita berharap dorongan PPN dan DP 0 persen bisa mendorong ada kenaikan biarpun kita nggak lihat akan naik kenceng sekali, karena ekonomi juga belum terlalu bullish jadi demand memang masih terbatas,” kata Hans lagi.

Selain dari stimulus, Hans menyebut sektor properti & real estat juga akan terbantu jika harga komoditas sudah kembali naik dengan agresif. Namun diperkirakan dorongan ini baru akan terasa tahun depan karena saat ini harga komoditas masih tertahan.

“Karena kalau komoditas naik, orang akan banyak uang, pembelanjaan properti pun meningkat. Tentu pemulihan ekonomi jadi sesuatu yang sangat penting,” imbuh dia.

Lebih lanjut Hans menuturkan, komoditas akan masuk fase grand supercycle meski saat ini kenaikan harga komoditas sedang berusaha ditekan agar tidak melambung terlalu tinggi untuk menghindari inflasi yang juga terlalu tinggi.

“Ini juga yang menganggu sektor proeprti. Karena takut inflasi terlalu tinggi karena kenaikan komoditas, jadi ada upaya-upaya untuk menahan. Tapi diyakini itu gak bisa berlangsung lama karena yang terjadi di pasar itu real demand,” pungkasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

real estate stimulus sektor properti
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top