Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jurus China Saingi Elon Musk dalam Mengguncang Pasar Kripto

Regulator China berupaya mengurangi risiko keuangan terkait dengan kebangkitan Bitcoin dan sejenisnya selama bertahun-tahun.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 27 Mei 2021  |  16:33 WIB
Presiden China Xi Jinping - Bloomberg
Presiden China Xi Jinping - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Tidak banyak sentimen yang menggerakkan pasar cryptocurrency seperti halnya cuitan Elon Musk di Twitter. Namun, kebijakan ketat dan tegas pemerintah China terhadap pasar kripto kemungkinan hampir menyamai pengaruh cuitan Bos Tesla tersebut.  

Melansir Bloomberg, Kamis (27/5/2021), pemerintah China telah melarang perdagangan kripto di bursa domestik, serta menekan penambang mata uang digital yang dinilai menghabiskan banyak energi.  

Regulator China berupaya mengurangi risiko keuangan terkait dengan kebangkitan Bitcoin dan sejenisnya selama bertahun-tahun. Namun, serentetan peringatan resmi baru-baru ini telah membuat para pedagang kripto ketakutan lagi, sekalipun beberapa peringatan tampaknya mengulangi kebijakan sebelumnya.

Hal tersebut menandakan jika Tiongkok mengawasi pasar kripto dengan cermat dan dapat mengambil langkah lebih lanjut, ketika Presiden Xi Jinping berusaha mengurangi risiko ekonomi dan memenuhi tujuan ambisius negara tersebut untuk menanggulangi perubahan iklim.

1. Apa yang telah dilakukan China?

Pada 2017, China meminta bursa setempat menghentikan perdagangan cryptocurrency dan melarang penawaran koin awal atau ICO, yang setara dengan penawaran umum perdana untuk mata uang virtual baru.

Pemerintah China juga melarang lembaga keuangan dan penyedia layanan pembayaran untuk terlibat dalam perdagangan kripto, seperti membuka rekening bank bagi mereka yang terlibat di dalamnya.

Selanjutnya, China juga mencemati proses komputasi yang menyerap banyak energi, dimana transaksi kripto telah lama terkonsentrasi di sana.

2. Mengapa menjadi perhatian baru?

Pada 21 Mei 2021, Kabinet China menyerukan tindakan keras terhadap aktivitas penambangan dan perdagangan Bitcoin. Pernyataan tersebut disampaikan saat pertemuan lembaga pemerintah setempat yang membahas stabilitas keuangan.

Aksi ini menjadi pertama kalinya pejabat tinggi China menyoroti penambangan kripto di tingkat nasional sejak menghapusnya dari daftar industri kotor yang diusulkan untuk dihilangkan pada 2019.

Sebelumnya ada tindakan tegas pada area regional di tempat-tempat dengan energi murah seperti Mongolia, tetapi penegakan hukum selalu menjadi tanda tanya besar.

Akan tetapi, mulai April 2021, pemerintah di negara kaya batu bara itu melarang penambangan, lalu membuat sistem whistle-blowing, dan mengatakan akan menaikkan sanksi bagi pelanggar. Sementara itu, banyak asosiasi industri keuangan mengeluarkan pemberitahuan untuk tidak terlibat dalam pasar kripto.

3. Mengapa China tegas menindak?

Tidak ada penjelasan eksplisit, tetapi pembersihan risiko dari pasar keuangan telah menjadi mantra pemerintah China selama bertahun-tahun, sebagaimana dibuktikan akhir-akhir ini dalam tindakan keras terhadap raksasa fintech termasuk Ant Group Co. milik Jack Ma dan upaya bank sentral untuk mengembangkan yuan digital.

Mata uang digital juga dinilai menyediakan cara untuk memindahkan uang keluar dari China, yang berpotensi menambah arus dana keluar.

Mengenai aktivitas pernambangan kripto, pemerintah China semakin waspada terhadap konsumsi energi industri yang sangat besar. Sebelumnya Presiden Xi Jinping telah berjanji untuk mencapai netralitas karbon pada 2060.

4.Bukankah kripto besar di China?

China mendominasi dunia penambangan kripto dengan beberapa cara. Sebagai contoh, perusahaan seperti Bitmain, MicroBT, dan Canaan Inc. yang terdaftar di AS adalah produsen mesin penambangan kripto terbesar.

Perusahaan lain seperti F2Pool dan Poolin juga menjalankan layanan online di mana pengguna menggabungkan kekuatan komputasi mereka dan membagi hadiah untuk peluang yang lebih baik dalam menggali koin baru.

China juga merupakan rumah bagi sebagian besar penambang kripto di planet ini. Para penambang bersemayam di gudang dan pusat data yang memanfaatkan batu bara atau tenaga air murah di wilayah seperti Xinjiang, Mongolia, Sichuan, dan Yunnan.

Pada April 2020, China menyediakan 65 persen dari kekuatan komputasi dunia untuk penambangan Bitcoin, dibandingkan 7 persen yang dialokasikan Amerika Serikat. Hal tersebut menurut perkiraan University of Cambridge.

Bitcoin dan sejenisnya masih dapat diperdagangkan, tetapi hanya secara langsung antara dua pihak di pasar over-the-counter yang dijalankan oleh orang-orang seperti Binance dan Huobi.

5. Bagaimana dampaknya?

Sulit untuk menilai. Tindakan tegas terbaru China terutama tentang fasilitas penambangan fisik, di mana tidak ada pemain tertentu yang dapat memimpin. Ada kemungkinan puluhan ribu operasi tersebar di seluruh negeri, yang membuat pengawasan peraturan menjadi sulit.

Namun, langkah tersebut telah membentuk kembali industri dan menaikkan biaya. Kekuatan komputasi jaringan Bitcoin mengalami penurunan setelah pertemuan Dewan Negara China belakangan ini. Hal tersebut menunjukkan gangguan sementara operasi penambang kripto.

Adapun beberapa penambang Tiongkok nampak mulai memindahkan basis operasi, menjual Bitcoin atau mesin mereka.

Kendati demikian, eksodus pemain kripto China sebenarnya telah berlangsung sejak 2017. Ketika itu, Bitmain mendirikan operasi penambangan di AS dan Kanada, dan banyak penyedia layanan pertukaran dan dompet lokal telah mendirikan toko di Hong Kong dan Singapura. Alhasil, peringatan terbaru dari regulator Tiongkok bisa mempercepat proses eksodus itu.

Pada 26 Mei, BitDeer yang berbasis di Beijing, sebuah startup penambangan yang didirikan oleh pengusaha kripto berpengaruh Jihan Wu, mengatakan telah memblokir semua alamat internet dari Tiongkok untuk memastikan perusahaan tersebut tidak lagi melayani warga Tiongkok.

Selain itu, Huobi berhenti mendaftarkan pengguna China baru untuk memperdagangkan produk terkait kripto yang berisiko di platformnya. Perusahaan ini juga menangguhkan penjualan mesin dan bisnis hosting di negara tersebut. Aplikasi berjangka kripto yang lebih kecil seperti XMEX mengumumkan penghentian total.

6. Bagaimana dengan harga cryptocurrency?

Rangkaian kebijakan tegas China sempat memicu kerugian besar harga Bitcoin pada awal 2018, tetapi cryptocurrency memang mengalami banyak pasang surut sejak saat itu.

Bitcoin secara bertahap sempat pulih dan mencapai harga tertinggi sepanjang masa US$64.870 pada April 2021. Berita China terbaru menghantam kepercayaan kelompok pendukung Bitcoin, setelah sebelumnya Elon Musk melakukan perubahan arah dan mengkritik token tersebut terkait konsumsi energinya. Harga Bitcoin sempat langsung ambles hingga 10 persen setelah pertemuan Dewan Negara China.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china elon musk mata uang kripto

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top