Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saratoga (SRTG) Siap Proses Stock Split, Harga Teoritis Rp1.120

Saratoga akan melakukan pemecahan saham dengan rasio 1:5 mulai besok, Selasa (18/5/2021).
Direktur Keuangan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk Lany Djuwita Wong (dari kiri) berbincang dengan Direktur Investasi Devin Wirawan, Hubungan Investor Albert Saputro, dan Direktur Portofolio Andi Esfandiari di sela-sela paparan publik seusai RUPS, di Jakarta, Rabu (22/5/2019)./Bisnis-Abdullah Azzam
Direktur Keuangan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk Lany Djuwita Wong (dari kiri) berbincang dengan Direktur Investasi Devin Wirawan, Hubungan Investor Albert Saputro, dan Direktur Portofolio Andi Esfandiari di sela-sela paparan publik seusai RUPS, di Jakarta, Rabu (22/5/2019)./Bisnis-Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) akan melakukan pemecahan nilai nominal saham dengan rasio 1:5 dan harga teoritis Rp1.120.

Dalam pengumuman Bursa Efek Indonesia, menyebutkan Berdasarkan Peraturan Nomor II-A tentang ”Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas’’ dan menunjuk surat PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) No. 035/CorpSec-SRTG/V/2021 tanggal 7 Mei 2021 perihal “Keterbukaan Informasi terkait Aksi Korporasi”, dengan ini diumumkan hal-hal sebagai berikut.

Pertama, penyesuaian harga teoretis, jumlah saham hasil stock split dan perubahan parameter saham SRTG dalam JATS akan dilaksanakan pada tanggal 18 Mei 2021.

Kedua, harga saham SRTG pada saat akhir Cum di Pasar Reguler dengan nilai nominal lama Rp100,- per saham tanggal 17 Mei 2021, tercatat pada harga Rp5.600.

Dengan demikian Harga Teoretis untuk pedoman tawar menawar dan perhitungan Indeks Harga Saham di Bursa Efek Indonesia dan Indeks Harga Saham (IHS) Individual SRTG dengan nilai nominal baru Rp20,- per saham ditetapkan Rp1.120.

"Harga Teoretis saham SRTG yang dicantumkan di JATS untuk Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi pada tanggal 18 Mei 2021 disesuaikan dengan fraksi harga menjadi Rp1.120," papar BEI.

Adapun, penyesuaian harga dasar untuk perhitungan IHS Individual saham SRTG ditetapkan senilai Rp1.100.

Sebelumnya, manajemen SRTG dalam laporannya di Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan, perseroan melakukan pemecahan saham atau stock split setelah persetujuan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang digelar pada Rabu (28/4/2021).

Tahapan stock split dimulai dari akhir perdagangan saham dengan nilai nominal dana di pasar reguler dan negosiasi pada 17 Mei 2021. Adapun, awal perdagangan saham dengan nominal baru di pasar reguler dan negoasiasi pada 18 Mei 2021.

"Akhir penyelesaian transaksi saham dengan nominal lama dan penentuan daftar pemegang saham yang berhak atas stock split pada 19 Mei 2021," papar manajemen Saratoga.

Tanggal distribusi dan awal perdagangan saham SRTG dengan nilai nominal baru pada 20 Mei 2021.

Pada penutupan perdagangan Senin (17/5/2021), saham SRTG ditutup koreksi 1,75 persen atau turun 100 poin menjadi Rp5.600. Kapitalisasi pasarnya mencapai Rp15,19 triliun dengan valuasi PER 3,28 kali.

Investor Relations Saratoga Investama Sedaya Ryan D Sual mengatakan aksi stock split sebagai upaya untuk meningkatkan likuiditas perdagangan sahamnya.

Rasio pemecahan nilai nominal saham yang diusulkan adalah 1 saham dengan nilai nominal Rp100 per saham menjadi 1 saham dengan nilai nominal Rp20 per saham, atau 1:5.

“Pemegang saham menyetujui untuk menggelar stock split dengan rasio 1:5,” ujar Ryan saat paparan publik, Rabu (28/4/2021).

Ryan menjelaskan bahwa pelaksanaan stock split itu seiring dengan perseroan melihat kapitalisasi pasar perseroan berada jauh di bawah nilai investasi aset bersih perseroan.

Per Februari 2021, emiten berkode saham SRTG itu memiliki nilai investasi aset bersih (NAB) sebesar US$2,6 miliar atau setara dengan Rp36,38 triliun. Sementara itu, kapitalisasi pasar SRTG berada di posisi Rp15,2 triliun.

Dari itu terdapat selisih yang cukup besar antara NAB dengan kapitalisasi pasar SRTG sekitar Rp21,12 triliun.

“Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kapitalisasi saham perseroan sesungguhnya berada 58 persen di bawah NAB kami, atau terdiskon,” papar Ryan.

Direktur Investasi Saratoga Investama Sedaya Devin Wirawan mengatakan bahwa di tengah banyaknya tantangan bisnis akibat pandemi Covid-19 yang juga membawa ketidakpastian, perseroan berhasil mencetak pertumbuhan bisnis sehingga NAB mencapai Rp36,38 triliun per Februari 2021.

“Kami berharap ke depan dapat meningkatkan likuiditas perusahaan, seperti stock split dan buy back untuk memperkecil diskon dari NAB dengan kapitalisasi pasar kami,” ujar Devin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper