Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dikelilingi Banyak Sentimen, Bagaimana Prospek Pasar Asia Tahun Ini?

Asia akan diuntungkan dari pemulihan ekonomi Amerika Serikat karena berdampak positif terhadap meningkatnya aktivitas perdagangan di Asia.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 15 Mei 2021  |  15:45 WIB
Ilustrasi pasar saham Asia
Ilustrasi pasar saham Asia

Bisnis.com, JAKARTA – Jelang pertengahan 2021, pasar modal di kawasan Asia masih menghadapi tantangan yang tak mudah. Lantas bagaimana prospek pasar modal Asia pada tahun ini?

Portfolio Manager Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Andrian Tanuwijaya mengatakan ada sejumlah sentimen yang membayangi pasar Asia antara lain tren kenaikan imbal hasil US Treasury, masih tingginya ketegangan Amerika Serikat-China, dan pemulihan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang kuat.

Dia menuturkan, terlepas dari beberapa sentimen yang disebutkan tadi, secara fundamental kawasan Asia menawarkan potensi yang menarik, yang mana beberapa indikator ekonomi seperti neraca transaksi berjalan, inflasi, dan cadangan devisa sudah semakin membaik.

“Makro ekonomi yang semakin baik membuat Asia menjadi lebih risilien dalam menghadapi goncangan volatilitas di pasar global. Sebagai bagian penting dari rantai pasokan global, pemulihan ekonomi global berpotensi menguntungkan kawasan Asia,” kata Andrian dalam publikasi resminya, seperti dikutip Bisnis, Sabtu (15/5/2021).

Lebih lanjut dia mengatakan membaiknya selera risiko global, kepemilikan asing yang relatif rendah, dan tren kebijakan moneter/ fiskal yang masih akomodatif diharapkan dapat menambah daya tarik investasi ke pasar Asia untuk mencari imbal hasil yang lebih atraktif.

Sebagai gambaran, Andrian menilai kenaikan imbal hasil US Treasury (UST) akan memberikan dampak yang konstruktif pada ekonomi dan pasar finansial, dengan catatan kenaikannya terjadi secara bertahap.

“Mestinya ke depan pergerakan imbal hasil UST akan relatif lebih stabil karena penyesuaian ulang proyeksi pasar akan imbal hasil UST yang sudah cukup tinggi sesungguhnya mencerminkan pemulihan ekonomi dan potensi kenaikan inflasi telah diterima dan dikalkulasi oleh pasar,” tutur dia.

Kemudian, masalah ketegangan AS-China, yang walaupun meningkat tetapi lebih terkait dengan isu yang lebih ‘lunak’ dan lebih jangka panjang sehingga tidak mendorong pergerakan yang besar di pasar saham.

“Meskipun tarif dagang tetap dipertahankan namun setidaknya tarif tersebut tidak meningkat,” imbuh Andrian.

Di sisi lain, dia menilai Asia akan diuntungkan dari pemulihan ekonomi AS karena berdampak positif terhadap meningkatnya aktivitas perdagangan di Asia.

Tercatat, secara historis defisit neraca berjalan di AS merupakan refleksi dari surplus neraca berjalan di Asia dimana pemulihan aktivitas ekonomi AS cenderung mendorong permintaan dan ekspor dari Asia.

Di lain pihak, masih ada sejumlah hal yang yang perlu diperhatikan terkait kinerja pasar Asia, salah satu yang utama adalah kecepatan dan keberhasilan vaksinasi menjadi faktor penting yang perlu dicermati.

Jika melihat lonjakan kasus Covid-19 gelombang kedua yang terjadi di India, terlihat dampaknya tidak terlalu besar pada kinerja pasar, sehingga memang kecepatan vaksinasi dan akselerasi pembukaan ekonomi akan menjadi faktor yang lebih penting.

“Ke depannya perhatian pasar tidak hanya berfokus pada pandemi, namun akan bergeser pada outlook inflasi, komunikasi bank sentral dan pemulihan aktivitas terutama di sektor jasa,” pungkas Andrian.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia pasar saham Covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top