Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Tembaga Kembali Bertenaga, Begini Prospeknya!

Pergerakan harga tembaga yang terus menguji level tertingginya pada semester II/2021.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 20 April 2021  |  18:36 WIB
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017). - Bloomberg/Andrey Rudakov
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017). - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Harga tembaga terus melanjutkan tren positifnya dan kembali mendekati level harga tertinggi dalam sembilan tahun. Pergerakan harga diprediksi akan menguat pada paruh kedua tahun ini menyusul prospek pemulihan ekonomi global.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (20/4/2021), harga tembaga pada London Metal Exchange (LME) sempat hingga ke level US$9.436 per ton sebelum kembali ke level US$9.376 per ton atau naik 1,79 persen.

Adapun, pada akhir Februari lalu, harga tembaga mencetak rekor tertinggi dalam sembilan tahun setelah menyentuh US$9.617 per ton. Lonjakan tersebut didorong oleh potensi permintaan dari industri energi terbarukan dan kendaraan listrik.

Pada Maret lalu, harga tembaga mengakhiri rekor kenaikan yang telah berjalan selama 11 bulan beruntun. Komoditas yang dijadikan kompas perekonomian global tersebut terkoreksi seiring dengan musim permintaan yang rendah serta kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Senior Commodities Strategist ING Bank NV, Wenyu Yao dalam laporannya menjelaskan, konsolidasi harga yang terjadi sepanjang Maret lalu kini telah berbalik menjadi pergerakan bullish. Menurutnya, kondisi inflasi saat ini dan suku bunga riil yang negatif menjadi katalis positif untuk harga komoditas.

“Lonjakan harga tembaga saat ini terjadi berkat kondisi fundamental komoditas tersebut yang mendukung,” jelasnya dikutip dari Bloomberg.

Yao melanjutkan, risiko upside kemungkinan akan mendominasi pasar tembaga pada semester II/2021 mendatang. Hal ini akan memicu pergerakan harga tembaga yang terus menguji level tertingginya.

Meski demikian, ia menambahkan kekuatan reli harga juga akan melunak seiring dengan berakhirnya siklus penyetokan ulang tembaga dan melambatnya pertumbuhan kredit di China yang akan membebani permintaan terhadap investasi.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, reli harga tembaga ditopang oleh kelanjutan pelemahan indeks dolar AS. Menurutnya, kebijakan pemerintah AS hanya akan berpengaruh sesaat terhadap inflasi sehingga memicu penurunan indeks dolar.

“Sentimen ini menjadi katalis positif bagi komoditas-komoditas yang diperdagangkan dengan denominasi dolar AS, termasuk tembaga,” jelasnya saat dihubungi pada Selasa (20/4/2021).

Di sisi lain, rilis pertumbuhan ekonomi China yang berada diatas ekspektasi juga turut mengerek naik harga tembaga. Ibrahim memaparkan, pertumbuhan ekonomi China pada masa pandemi virus corona merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

Pertumbuhan tersebut, lanjutnya, didorong oleh sektor-sektor seperti infrastruktur serta kegiatan industri yang terus berjalan. Sentimen tersebut memicu kenaikan permintaan tembaga ditengah terbatasnya pasokan.

Ibrahim melanjutkan, reli harga tembaga masih dapat berlanjut hingga akhir semester I/2021. Seiring dengan prospek pelemahan dolar AS, ia memperkirakan harga tembaga dapat menyentuh level US$10.000 per metrik ton pada paruh pertama tahun ini.

Setelah menyentuh level tersebut, ia memprediksi harga tembaga akan kembali menurun. Hal ini disebabkan oleh prospek pemulihan ekonomi yang diyakini sudah dapat terlihat pada semester II/2021 mendatang.

“Ekonomi diyakini sudah akan stabil, sehingga permintaan dan produksi tembaga akan cenderung lebih terjaga,” jelasnya.

Ibrahim memperkirakan, pada akhir tahun 2021 mendatang, harga tembaga akan cenderung stabil di kisaran US$7.000 per ton hingga US$9.000 per ton.

Sementara itu, Analis Goldman Sachs Nicholas Snowdon dalam laporannya menjelaskan, pergerakan harga tembaga dalam jangka panjang menunjukkan tren yang positif. Harga tembaga juga berpotensi menyentuh level US$15.000 per metrik ton pada 2025 mendatang.

“Proses transisi ke energi terbarukan akan mendukung lonjakan permintaan tembaga yang tidak akan diimbangi dengan kecukupan pasokan,” jelas Snowdon.

Ia menjelaskan, proses perpindahan sejumlah negara ke sumber energi ramah lingkungan akan menjadi katalis utama dalam pergerakan bullish tembaga dalam jangka panjang. Tembaga merupakan bahan baku utama instrumen-instrumen penting untuk sumber listrik alternatif ramah lingkungan.

Snowdon melanjutkan, tembaga akan melewati fase dengan tingkat permintaan yang tinggi dalam 1 dekade ke depan. Permintaan tembaga diprediksi melonjak hingga 600 persen pada 2030 mendatang seiring dengan proses perpindahan sumber energi yang terus berjalan.

Menurutnya, pasar tidak akan mampu mengimbangi laju permintaan tembaga ditengah pasokan yang sudah semakin berkurang saat ini. Snowdon memperkirakan pasar tembaga akan mengalami defisit pasokan sebesar 8,2 juta ton pada 2030 mendatang, atau dua kali lipat lebih besar dari shortfall pasokan yang mendorong reli harga tembaga pada awal tahun 2000 lalu.

Seiring dengan hal tersebut, Goldman Sachs meningkatkan target harga tembaga menjadi US$11.000 per metrik ton dalam 12 bulan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan prediksi Snowdon sebelumnya pada level US$10.500 per metrik ton.

“Untuk tahun ini, rata-rata harga tembaga diperkirakan berada di kisaran US$9.675 per metrik ton,” lanjut Snowdon.

Selanjutnya, Snowdon mematok target harga tembaga pada 2022 di level US$11.875 per metrik ton. Harga tembaga kemudian akan terus meningkat pada periode 2023–2025 masing-masing pada target harga US$12.000 per metrik ton, US$14.000 per metrik ton, dan US$15.000 per metrik ton.

Sementara itu, Analis Citigroup Ed Morse mengatakan, harga komoditas akan mengalami rebound yang cukup signifikan sepanjang tahun ini. Salah satu komoditas yang dinilai akan menikmati tren positif tersebut adalah tembaga.

Citigroup memproyeksikan harga tembaga akan mencatatkan rekor harga pada tahun ini, yakni US$10.500 per metrik ton dalam 3 hingga 6 bulan mendatang.

“Komoditas hampir dipastikan akan mengalami tren yang baik pada tahun ini seiring dengan tingkat permintaan yang melebihi proyeksi produk domestik bruto (PDB) 5,5 persen pada mayoritas pasar,” jelas Morse dikutip dari laporannya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

logam harga tembaga komoditas tembaga
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top