Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rekam Jejak Buruk Jadi Penyebab Manajer Investasi Jauhi MTN

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah MTN yang diterbitkan mengalami gagal bayar. Hal ini berdampak kepada kepercayaan pelaku pasar terhadap keamanan dan likuiditas MTN.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 13 April 2021  |  14:21 WIB
Karyawan memantau pergerakan Indeks harga saham gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan manajer investasi, di Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Endang Muchtar
Karyawan memantau pergerakan Indeks harga saham gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan manajer investasi, di Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – Rekam jejak yang kurang baik selama beberapa waktu belakangan dinilai menjadi penyebab utama menurunnya penyerapan instrumen Medium Term Notes (MTN) pada reksa dana.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan, menurunnya porsi MTN pada reksa dana disebabkan oleh tren negatif yang terjadi pada instrumen ini.

Ramdhan memaparkan, dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah MTN yang diterbitkan mengalami gagal bayar. Hal ini berdampak kepada kepercayaan pelaku pasar terhadap keamanan dan likuiditas MTN.

“Penurunan minat ini tidak hanya terjadi pada reksa dana, tetapi hampir di seluruh lini,” jelasnya saat dihubungi pada Selasa (13/4/2021).

Ia melanjutkan, dengan rekam jejak yang buruk selama beberapa waktu belakangan, instrumen MTN kini tidak begitu dilirik oleh pasar. Minat investor pun juga amat bergantung pada hubungan khusus pada penerbit, sehingga penyerapannya dinilai tidak akan maksimal.

Menurutnya, salah satu keunggulan MTN pada awalnya adalah proses penerbitan yang lebih mudah. Dari sisi kebijakan, penerbit MTN tidak perlu melakukan pencatatan di bursa atau hal-hal lain yang perlu dilakukan untuk penerbitan surat utang konvensional.

Meski demikian, regulasi yang kendur ini berimbas pada volatilitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan obligasi konvensional. Volatilitas pada pasar surat utang akan lebih terasa pada MTN sehingga kini penerbitan instrumen tersebut harus melalui proses pencatatan di bursa.

“Dengan volatilitas pasar yang tinggi seperti saat ini, investor atau manajer investasi juga akan berpikir dua kali sebelum membeli MTN. Mereka umumnya memilih obligasi korporasi konvensional atau  Surat Berharga Negara (SBN) karena lebih menarik dan aman,” jelas Ramdhan.

Lebih lanjut, Ramdhan menuturkan, meski sejumlah regulasi terkait penerbitan MTN telah diperbarui dan diperketat, pemulihan minat investor atau manajer investasi masih membutuhkan waktu yang cukup lama.

Selain itu, para pemangku kepentingan terkait juga dinilai perlu melakukan edukasi dan literasi lebih lanjut terkait regulasi-regulasi baru tersebut. Hal ini agar minat pasar terhadap instrumen MTN dapat pulih.

“Dengan minat yang minim, perusahaan tentu akan berhati-hati dalam menerbitkan MTN. Sepertinya untuk tahun ini penerbitan MTN tidak akan terlalu semarak, karena kepercayaan pasar belum kembali,” pungkasnya.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manajer investasi reksa dana medium term notes
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top