Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dolar AS Perkasa, Harga Aluminium Makin Lesu

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (30/3/2021), harga aluminium terkoreksi 1,39 persen ke US$2.266 per metrik ton di London Metal Exchange (LME) setelah melesat 1,4 persen sepanjang pekan lalu.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 30 Maret 2021  |  13:03 WIB
Roll forming adalah proses pengrolan dingin dengan tujuan pembentukan suatu profil baja (lapis paduan zinc atau zinc & aluminium atau zinc, aluminium, dan magnesium) menjadi produk akhir seperti atap gelombang, genteng metal, rangka atap, rangka plafon dan dinding.  - ARFI
Roll forming adalah proses pengrolan dingin dengan tujuan pembentukan suatu profil baja (lapis paduan zinc atau zinc & aluminium atau zinc, aluminium, dan magnesium) menjadi produk akhir seperti atap gelombang, genteng metal, rangka atap, rangka plafon dan dinding. - ARFI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga aluminium tergelincir dari level tertingginya sejak 2018 seiring dengan prospek pemulihan pasokan dan tren penguatan dolar AS.

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (30/3/2021), harga aluminium terkoreksi 1,39 persen ke US$2.266 per metrik ton di London Metal Exchange (LME) setelah melesat 1,4 persen sepanjang pekan lalu.

Pada minggu lalu, harga aluminium sempat melonjak 2,3 persen ke US$2.298 per ton pada Jumat (26/3/2021). Level harga tersebut merupakan yang tertinggi sejak pertengahan tahun 2018 lalu.

Salah satu sentimen penekan harga aluminium adalah rencana pemerintah China untuk menjual stok cadangan alumuniumnya sebanyak 500.000 ton. Langkah ini diyakini merupakan salah satu upaya pemerintah Negeri Panda untuk menekan reli harga sekaligus mencapai target emisi rendah yang dicanangkan.

Rencana mengalirkan persediaan aluminium China ke pasaran diyakini dapat mengimbangi penurunan total produksi China seiring dengan komitmennya untuk membatasi penggunaan energi karbon demi menuju emisi nol persen pada 2060.

Selain itu, kebijakan pemerintah China untuk memangkas emisi karbon dengan mengurangi kegiatan industri berbahan bakar fosil seperti smelter aluminium menimbulkan spekulasi bahwa lonjakan pasokan alumunium akan tersendat.

Pada saat yang sama, tingkat permintaan komoditas ini diperkirakan mengalami kenaikan. Hal inipun memicu lonjakan harga aluminium ke level tertingginya pada pekan lalu.

Analis TD Securities Bart Melek mengatakan kekhawatiran pasar terhadap pembatasan emisi China untuk smelter-smelter terlalu dibesar-besarkan. Pasalnya, mayoritas produksi aluminium terbaru akan berasal dari Provinsi Yunnan yang menggunakan tenaga air pada smelternya.

Sementara itu, laporan dari Morgan Stanley menyebutkan, pasar aluminium saat ini tengah tertekan menyusul sejumlah faktor pendorong yang bersifat jangka pendek. Hal ini tutur ditambah dengan beberapa katalis yang berdampak pada pasar logam ini secara struktural.

“Laporan penjualan cadangan dari pemerintah China menghasilkan sentimen yang bearish. Sehingga, potensi peningkatan pasokan masih akan terjadi pada tahun 2021,” demikian kutipan laporan tersebut.

Di sisi lain, harga aluminium turut tertekan seiring dengan penguatan nilai tukar dolar AS. Indeks Dolar AS Bloomberg tengah naik 0,2 persen. Hal ini menjadikan komoditas berdenominasi dolar AS seperti alumunium kurang menarik bagi investor yang memegang mata uang selain dolar AS.

Laporan dari Commerzbank AG menjelaskan, selain penguatan mata uang greenback, harga aluminium juga tertekan dengan membaiknya kondisi di Terusan Suez yang sempat lumpuh.

Kapal Ever Given yang sempat terdampar kini telah berhasil diapungkan sehingga kembali membuka jalur perdagangan tersibuk di dunia tersebut.

Sebelumnya, kemacetan di Terusan Suez sempat menimbulkan kekhawatiran pasar akan tersendatnya pasokan aluminium.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas logam aluminium

Sumber : Bloomberg.com

Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top