Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Korporasi Gemar Terbitkan Obligasi, Manajer Investasi Siap Beli

Direktur Panin Aset Manajemen Rudiyanto mengatakan penerbitan obligasi korporasi masih akan berjalan sesuai rencana karena tren kenaikan yield obligasi pemerintah hanya bersifat sementara, sedangkan rencana emisi biasanya merupakan tujuan jangka panjang.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 23 Maret 2021  |  20:11 WIB
Panin Asset Management - linkedin.com
Panin Asset Management - linkedin.com

Bisnis.com, JAKARTA — Tren kenaikan tingkat imbal hasil atau yield obligasi pemerintah dinilai tak akan memengaruhi rencana penerbitan obligasi korporasi tahun ini.

Direktur Panin Aset Manajemen Rudiyanto mengatakan penerbitan obligasi korporasi masih akan berjalan sesuai rencana karena tren kenaikan yield obligasi pemerintah hanya bersifat sementara, sedangkan rencana emisi biasanya merupakan tujuan jangka panjang.

“Perusahaan itu kan butuh dana, sudah direncanakan jauh-jauh hari jadi ibaratnya mau nggak mau harus jalan. Cuma pertanyaannya dengan biaya berapa?” tutur Rudiyanto kepada Bisnis, Selasa (23/3/2021)

Seperti diketahui, yield obligasi pemerintah menjadi acuan kupon obligasi korporasi karena biasanya imbal hasil yang ditawarkan perusahaan akan lebih tinggi dari imbal hasil surat utang negara (SUN).

Adapun, kenaikan kupon artinya akan mengerek biaya penerbitan atau cost of fund dari obligasi korporasi tersebut sehingga akan menjadi pertimbangan bagi perusahaan penerbit.

Rudiyanto menuturkan, jika yield melonjak di saat yang berdekatan dengan emisi obligasi korporasi, biasanya perusahaan penerbit akan melakukan penyesuaian seperti menurunkan nominal penerbitan.

“Jadi dampaknya lebih ke pricing saja,” kata Rudiyanto.

Dari sisi manajer investasi, dia menyebut pada dasarnya MI akan menyambut dengan baik penerbitan surat utang korporasi di tengah tren yield tinggi karena potensi imbal hasil yang akan didapat MI juga ikut terdongrak.

Akan tetapi, dia menilai tren kenaikan yang terjadi saat ini masih dalam batas wajar karena masih di bawah 1 persen, sehingga tak terlalu berdampak pada kenaikan imbal hasil obligasi korporasi.

“Betul harga obligasi sedang bergejolak, tapi kupon obligasi korporasi ternyata tidak terlalu signifikan juga ikut berubahnya,” ungkap Rudiyanto.

Lebih lanjut dia menjelaskan, saat ini tren kupon obligasi korporasi lebih cenderung berdasarkan peringkat yang disandang masing-masing surat utang.

Untuk obligasi dari perusahaan yang memiliki rating tinggi di atas AA, serta memiliki rekam jejak panjang, kupon yang ditawarkan cendrung lebih kecil tapi akan selalu diburu oleh investor.

Sementara untuk perusahaan yang tak terlalu populer dan memiliki rating lebih rendah, misalnya A atau BBB, biasanya kupon yang ditawarkan lebih tinggi seiring dengan risiko yang lebih besar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi obligasi korporasi manajer investasi reksa dana
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top