Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bursa Asia Masih Dibayangi Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS

Berdasarkan data Bloomberg, awal perdagangan Senin (15/3/2021), indeks Nikkei 225 menguat 0,22 persen ke level 29.783,34, sementara indeks Topix Jepang menguat 0,38 persen ke level 1.958,45.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 15 Maret 2021  |  08:17 WIB
Bursa Asia -  Bloomberg.
Bursa Asia - Bloomberg.

Bisnis.com, JAKARTA - Bursa saham di Asia masih menguat walaupun sejak diumumkannya rencana stimulus US$1,9 miliar oleh Presiden AS Joe Biden mayoritas indeks mengalami pelemahan.

Berdasarkan data Bloomberg, awal perdagangan Senin (15/3/2021), indeks Nikkei 225 menguat 0,22 persen ke level 29.783,34, sementara indeks Topix Jepang menguat 0,38 persen ke level 1.958,45.

Sementara indeks Hang Seng mengalami penurunan 2,2 persen ke level 28.739,72. Adapun indeks S&P/ASX 200 turun tipis 0,12 persen ke level 6.758,6.

Pergerakan mayoritas saham di Asia masih terdampak rencana stimulus Presiden AS sebesar US$1,9 triliun. Selama sebulan terakhir, indeks di Asia mengalami penurunan.

Hanya indeks Topix yang menguat 0,37 persen selama sebulan terakhir. Sementara, Indeks Nikkei 225, Hang Seng, CSI 300 mengalami penurunan masing-masing 0,81 persen, 4,75 persen dan 11,39 persen.

Di sisi lain, saham AS mencatat rekor, meskipun kenaikan imbal hasil obligasi terus membebani saham teknologi. Sementara, harga dolar AS melonjak.

S&P 500 ditutup lebih tinggi di tengah aksi reli kenaikan di saham keuangan dan industri karena rotasi ke nilai saham dilanjutkan. Indeks Nasdaq 100 merosot setelah mempercepat vaksinasi di AS dan berlakunya tagihan bantuan pandemi US$1,9 triliun mengirim imbal hasil Treasury melewati 1,64 persen. Dow Jones Industrial Average menambah level tertinggi sepanjang masa.

"Ada sedikit lebih banyak volatilitas dari biasanya, terutama karena ada sejumlah arus silang baik tailwinds maupun headwinds," kata Michael Reynolds, Kepala Investasi di Glenmede Trust Co, dikutip dari Bloomberg, Senin (15/3/2021).

Sementara itu, saham Eropa berakhir lebih rendah, dengan penurunan terbesar teknologi setelah berita Tencent. Kebangkitan virus di Italia ditambah dengan pemberian vaksin Covid-19 AstraZeneca Plc juga memukul sentimen. Burberry Group Plc naik menyusul pengumuman bahwa rebound pada kuartal keempat lebih kuat dari perkiraan analis.

Kesenjangan imbal hasil antara AS dan Jerman telah meningkat selama setahun terakhir.

Pasar tersentak pada hari Jumat oleh lonjakan imbal hasil, setelah penjualan obligasi yang relatif lancar minggu ini telah mengurangi kekhawatiran tentang prospek pendapatan tetap.

Gelombang stimulus dan peluncuran vaksin di AS sekali lagi memaksa investor untuk menghadapi prospek inflasi yang berlebihan. Fokus sekarang beralih ke keputusan Federal Reserve minggu depan.

Ahli Strategi Makro Senior di Nordea Investment Funds Sebastien Galy memperkirakan imbal hasil obligasi 10 tahun AS memiliki ruang kenaikan lebih lanjut dan bisa mencapai 1,8 persen.

"Pertumbuhan saham mempertahankan sensitivitas tinggi terhadap suku bunga, yang terus menunjukkan bahwa mereka dinilai terlalu tinggi," paparnya.

Di tempat lain, utang Eropa turun setelah pihak berwenang dikatakan tidak berniat memperluas stimulus meskipun mereka berjanji untuk menjaga imbal hasil tetap terkendali. Harga minyak turun di bawah US$66 per barel.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia Obligasi us treasury
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top