Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Direksi Adaro (ADRO) Jual 3 Juta Saham

Dalam laporan ke Bursa Efek Indonesia, Direktur Adaro Energy Julius Aslan melakukan penjualan 3 juta saham ADRO pada 8 Maret 2021 dengan harga Rp1.175 per saham.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 10 Maret 2021  |  05:41 WIB
Kegiatan pertambangan batu bara di wilayah operasional PT Adaro Energy Tbk. - adaro.com
Kegiatan pertambangan batu bara di wilayah operasional PT Adaro Energy Tbk. - adaro.com

Bisnis.com, JAKARTA - Satu direksi emiten pertambangan Grup Saratoga, PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) melakukan penjualan sebagian kepemilikan sahamnya.

Dalam laporan ke Bursa Efek Indonesia, Direktur Adaro Energy Julius Aslan melakukan penjualan 3 juta saham ADRO pada 8 Maret 2021 dengan harga Rp1.175 per saham. Artinya, nilai transaksi mencapai Rp3,52 miliar.

"Tujuan transaksi ialah investasi jangka panjang," papar manajemen ADRO dalam suratnya ke BEI, Selasa (9/3/2021).

Setelah penjualan sebagian sahamnya, kini Julius memegang 14 juta saham ADRO dari sebelumnya 17 juta saham sebelum transaksi. Persentase kepemilikan pun turun menuju 0,04 persen dari sebelumnya 0,05 persen.

Pada penutupan perdagangan Selasa (9/3/2021), saham ADRO koreksi 0,85 persen atau 10 poin menjadi Rp1.165. Kapitalisasi pasarnya mencapai Rp37,26 triliun dengan valuasi PER 17,99 kali. Sepanjang tahun berjalan, sahamnya turun 18,53 persen.

Berdasarkan laporan keuangan, emiten berkode saham ADRO itu mencatatkan pendapatan sebesar US$2,53 miliar pada 2020. Pencapaian itu turun 26,6 persen dibandingkan dengan realisasi 2019 sebesar US$3,45 miliar.

Sejalan dengan itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk ADRO menyusut 63,8 persen menjadi hanya sebesar US$146,9 juta dibandingkan dengan perolehan 2019 sebesar US$404,19 juta.

Kendati demikian, ADRO mencatatkan EBITDA operasional 2020 sebesar US$883 juta, lebih tinggi daripada panduan EBITDA operasionalnya yang telah direvisi menjadi di kisaran US$600 juta hingga US$800 juta.

Adapun, kehati-hatian perseroan pada tahun ini juga tercermin dari panduan belanja modal perseroan pada 2021 di kisaran US$200 juta hingga US$300 juta, tidak berbeda daripada panduan belanja modal 2020. Dana tersebut direncanakan akan digunakan untuk pemeliharaan rutin dan memperkuat usaha pertumbuhan ADRO.

Sepanjang 2020 ADRO hanya menyerap belanja modal sebesar US$169 juta, lebih rendah daripada panduan belanja modal yang telah direvisi tahun lalu menjadi sebesar US$200 juta hingga US$300 juta. Lebih rinci, ADRO menggunakan belanja modal itu terutama digunakan untuk pembelian dan penggantian alat berat, dan pengembangan AMC.

Selain itu, ADRO menetapkan target produksi batu bara pada 2021 diperkirakan akan tetap sama atau sedikit menurun secara year-on-year (yoy), yaitu 52 juta-54 juta ton.

Pada 2020, ADRO mencatat volume produksi menjadi 54,53 juta ton, lebih tinggi daripada panduan kinerja 2020 di kisaran 52 juta-54 juta ton tetapi turun 6 persen daripada perolehan 2019.

Selain itu, ADRO menjelaskan akan terus memperkuat dan menjaga posisi keuangan yang sehat. Pada 2020, total utang bersih sebesar US$167 juta, rasio utang bersih terhadap EBITDA operasional 12 bulan terakhir sebesar 0,19x, dan rasio utang bersih terhadap ekuitas 0,04 kali.

Saldo kas pada akhir 2020 tercatat sebesar US$1,17 miliar. Adaro juga memiliki akses terhadap US$153 juta dalam bentuk investasi lainnya dan US$380 juta dalam bentuk komitmen fasilitas utang yang belum dipakai, sehingga total likuiditas menjadi US$1,71 miliar pada akhir 2020.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham adaro saratoga investama sedaya adaro energy
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top