Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tumpah Ruah Laba Emiten CPO

Sebanyak 5 emiten perkebunan yang telah melaporkan kinerja keuangan 2020 dengan pertumbuhan laba bersih yang baik. Kinerja cemerlang ini ditopang oleh tren kenaikan harga CPO.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 09 Maret 2021  |  05:05 WIB
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah emiten perkebunan berhasil memanen laba cukup tebal tahun lalu, didukung tren kenaikan harga minyak sawit atau crude palm oil/CPO.

Berdasarkan catatan Bisnis, sebanyak 5 emiten perkebunan yang telah melaporkan kinerja keuangan 2020 kompak mencetak pertumbuhan laba bersih.

Pertumbuhan laba bersih paling agresif dipimpin oleh emiten perkebunan milik grup Astra, PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), yaitu mencetak pertumbuhan hingga 294,62 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp833,09 miliar.

Sementara itu, emiten grup Salim, PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP), berhasil mencetak laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp234,28 miliar, berbanding terbalik dengan posisi 2019 yang merugi Rp546,14 miliar.

Direktur Utama Salim Ivomas Pratama Mark Wakeford mengatakan bahwa peningkatan profitabilitas perseroan pada 2020 terutama karena kenaikan harga jual rata-rata (Average Selling Price/ ASP) produk sawit diikuti upaya dalam melakukan pengendalian biaya dan efisiensi.

SIMP mencatat ASP CPO dan palm kernel (PK) masing-masing naik 24 persen yoy dan 21 persen yoy.

Wakeford menjelaskan, ketidakpastian perekonomian akibat berlanjutnya tensi perdagangan AS-China, dampak pandemi Covid-19, dan pola cuaca yang tidak menentu akan mempengaruhi produksi dan harga komoditas pada tahun ini. 

“Di tengah volatilitas harga komoditas, fokus kami pada 2021 adalah memprioritaskan belanja modal pada aspek-aspek yang memiliki potensi pertumbuhan, meningkatkan pengendalian biaya serta inovasi untuk peningkatan produktivitas,” ujar Wakeford.

Secara terpisah, Direktur Utama PT Dharma Satya Nusantara Tbk. Andrianto Oetomo mengatakan bahwa pertumbuhan kinerja perseroan juga didukung kenaikan ASP CPO 2020 perseroan yang mencapai Rp8,1 juta per ton, naik 26 persen dibandingkan dengan ASP CPO 2019 sebesar Rp6,5 juta per ton.

Selain itu, kenaikan laba yang signifikan oleh emiten berkode saham DSNG itu juga merupakan kontribusi dari turunnya biaya keuangan perseroan, dampak dari konversi sebagian hutang perseroan ke mata uang dolar AS pada April dan Mei 2020.

“Kenaikan harga CPO telah mendorong peningkatan margin operasional,” ujar Andrianto.

Direktur Dharma Satya Nusantara Jenti Widjaja mengatakan pihaknya akan terus mengupayakan efisiensi biaya sehingga margin yang diperoleh akan tetap optimal pada tahun ini, melanjutkan kinerja baik daripada tahun lalu.

“Selain itu, perseroan pun berharap pertumbuhan produksi CPO naik 10 persen karena datangnya La Nina yang membawa hujan akan mendorong peningkatan produksi TBS yang sempat terhambat karena dampak El Nino yang terjadi pada 2019,” ujar Jenti kepada Bisnis, Senin (8/3/2021).

Hal itu pun seiring dengan tren kenaikan harga CPO yang masih berlanjut hingga saat ini. 

Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO kontrak Mei 2021 di bursa Malaysia telah menguat 11,17 persen sepanjang tahun berjalan 2021, dan parkir di level 3.887 ringgit per ton pada perdagangan Senin (8/3/2021).

Tetap Waspada

Di sisi lain, Direktur Utama Astra Agro Lestari Santosa mengatakan bahwa kenaikan harga CPO yang terjadi sejak akhir 2020 dan berlanjut hingga saat ini tidak sepenuhnya dapat dinikmati pelaku usaha.

“Tingginya harga harus dicermati betul mengingat sekarang kan berbeda dengan tahun lalu karena adanya perubahan pungutan ekspor yang progresif. Tingginya harga saat ini juga ada dampak berganda karena bea keluaran juga jadi sangat tinggi,” ujar Santosa kepada Bisnis, belum lama ini.

Oleh karena itu, perseroan juga akan tetap wait and see dan cenderung hati-hati pada tahun ini mengingat kondisi pasar masih dibayangi banyak ketidakpastian akibat pandemi Covid-19.

Pasalnya, papar Santoso, kinerja perseroan sangat bergantung terhadap cuaca dan dinamika pasar sesuai dengan pasokan dan permintaan CPO.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak sawit harga cpo emiten perkebunan
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top