Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pelemahan Rupiah ke Rp14.300-an Dinilai Masih Wajar, Mengapa?

Meski menunjukkan tren pelemahan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai masih berada pada level yang wajar.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 02 Maret 2021  |  18:47 WIB
Karyawati menunjukan mata uang Rupiah dan Dollar Ameika Serikat di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (2/4/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati menunjukan mata uang Rupiah dan Dollar Ameika Serikat di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (2/4/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Tren negatif nilai tukar rupiah dinilai masih berada tahap yang wajar. Potensi rebound rupiah juga masih terbuka kendati amat bergantung pada pelemahan dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (2/3/2021), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 70 poin atau 0,49 persen ke level Rp14.325 per dolar AS.

Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan meski menunjukkan tren pelemahan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai masih berada pada level yang wajar. Menurutnya, nilai rupiah masih berada dalam fase konsolidasi sejak November 2020 lalu.

“Gejolaknya memang tidak banyak, terbukti rupiah juga sempat kembali ke kisaran Rp13.900 beberapa waktu lalu. Secara moneter, kondisi rupiah sebenarnya masih cukup baik,” katanya.

Wahyu memaparkan, salah satu penyebab pelemahan rupiah saat ini adalah kekhawatiran pelaku pasar terhadap paket stimulus AS. Gelontoran paket stimulus dari Presiden AS, Joe Biden dinilai akan memicu kenaikan inflasi.

“Saat ini inflasi juga masih cenderung rendah, karena uang kebanyakan disimpan, atau membayar utang, ataupun membiayai stimulus tersebut dari sisi pemerintah,” jelasnya.

Selain itu, lonjakan imbal hasil obligasi AS (US Treasury) hingga ke level 1,5 persen juga kian menekan nilai tukar rupiah. Pasalnya, pelaku pasar akan cenderung masuk ke pasar AS, sehingga melemahkan nilai mata uang emerging market seperti Indonesia.

Sementara itu, dari dalam negeri, kebijakan moneter dari Bank Indonesia (BI) cenderung mengarah pada pelemahan rupiah. Kebijakan pemangkasan suku bunga acuan lebih lanjut untuk memulihkan ekonomi Indonesia, lanjut Wahyu, akan berimbas pada nilai tukar rupiah yang sulit menguat.

Wahyu memaparkan, peluang penguatan nilai rupiah di 2021 masih cukup terbuka. Namun, hal ini amat bergantung pada pelemahan dolar AS kedepannya. Sejauh ini, Wahyu menilai tren pergerakan dolar AS masih menunjukkan potensi pelemahan.

Salah satu sentimen yang akan melemahkan nilai dolar AS adalah penguatan harga komoditas. Sebagai informasi, aset komoditas merupakan lawan dari dolar AS dimana kenaikan harga komoditas akan melemahkan nilai dolar AS dan sebaliknya.

Selain itu, peralihan investor dari pasar Eropa dan AS ke emerging market juga berpeluang menguatkan nilai mata uang garuda ke depannya. Menurutnya, negara emerging market seperti Indonesia saat ini masih dilirik oleh apra investor asing karena menawarkan potensi return yang signifikan.

“Saat ini, pasar Eropa dan AS sudah overvalued. Investor pasti akan mencari pasar yang memberikan keuntungan maksimal,” tuturnya.

Ia menambahkan, sentimen kecemasan inflasi dan kenaikan imbal hasil US Treasury belum akan menjadi sentimen yang masuk dalam perhitungan pasar. Menurutnya, kedua katalis tersebut masih berupa asumsi sentimen untuk pergerakan rupiah dalam jangka panjang.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as Rupiah
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top