Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perdagangan Perdana Maret 2021, Rupiah Paling Loyo di Asia

Nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau melemah 0,21 persen atau 30 poin ke level Rp14.265 per dolar AS pada pukul 09.23 WIB.
Aprianto Cahyo Nugroho dan Rinaldi Mohammad Azka
Aprianto Cahyo Nugroho dan Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 01 Maret 2021  |  09:33 WIB
Pegawai menunjukan uang dolar dan rupiah di Jakarta, Senin (15/2/2021). Bisnis - Himawan L Nugraha
Pegawai menunjukan uang dolar dan rupiah di Jakarta, Senin (15/2/2021). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah masih melanjutkan pelemahannya pada awal perdagangan hari ini, Senin (1/3/2021).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau melemah 0,21 persen atau 30 poin ke level Rp14.265 per dolar AS pada pukul 09.23 WIB.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah dibuka di zona merah dengan koreksi 0,14 persen atau 20 poin ke Rp14.255.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya terpantau melemah 0,078 poin atau 0,09 persen ke level 90,801 pada pukul 09.13 WIB.

Pelemahan rupiah menjadi yang paling dalam dibandingkan dengan mata uang lainnya di kawasan Asia. Menyusul rupiah, peso Filipina dan yen Jepang masing-masing terkoreksi 0,1 persen.

Di sisi lain, dolar Singapura menjadi yang terkuat di Asia setelah terapresiasi 0,16 persen pada pukul 09.24 WIB, disusul Won Korea Selatan dengan kenaikan 0,09 persen.

Sebelumnya, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menuturkan sinyal negatif dari data eksternal cukup menguatkan indeks dollar sehingga berakibat terhadap melemahnya mata uang rupiah. 

"Obligasi pemerintah dan khususnya Treasury AS, telah menjadi titik fokus pasar secara global, setelah para pedagang secara agresif mengubah harga dalam pengetatan moneter sebelumnya daripada yang diisyaratkan oleh Federal Reserve dan rekan-rekannya," jelasnya, Jumat (26/2/2021). 

Dia menjelaskan imbal hasil obligasi telah naik tahun ini karena prospek stimulus fiskal besar-besaran di tengah kebijakan moneter yang sangat lunak, yang dipimpin oleh Amerika Serikat. 

Selain itu, percepatan laju vaksinasi secara global juga telah mendukung apa yang kemudian dikenal sebagai perdagangan reflasi, mengacu pada taruhan pada peningkatan aktivitas ekonomi dan harga. 

Namun dalam beberapa hari terakhir, kenaikan imbal hasil obligasi yang disesuaikan dengan inflasi telah dipercepat, menunjukkan keyakinan yang berkembang bahwa bank sentral mungkin perlu mengurangi kebijakan ultra-longgar. 

"Sedangkan untuk perdagangan pekan depan [hari ini], Senin [1/3/2021], mata uang rupiah kemungkinan dibuka dan ditutup melemah di rentang Rp14.230--Rp14.290 per dollar AS," katanya.  


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as nilai tukar rupiah
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top