Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dampak Bitcoin Mengkhawatirkan, India Rancang Mata Uang Digital Buatan Sendiri

RBI telah mengemukakan kekhawatirannya terhadap aset-aset kripto sejak beberapa waktu lalu. Beragam masalah yang berpotensi muncul dari aset kripto diantaranya adalah pencucian uang hingga pendanaan untuk teroris.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 24 Februari 2021  |  15:26 WIB
Logo Reserve Bank of India di depan kantor pusat sentral di Mumbai, India. - Bloomberg
Logo Reserve Bank of India di depan kantor pusat sentral di Mumbai, India. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bank sentral India, The Reserve Bank of India (RBI), tengah khawatir soal dampak negatif mata uang kripto (cryptocurrency) seperti Bitcoin terhadap stabilitas ekonomi di wilayah Asia dan India.

Dilansir dari Bloomberg pada Rabu (24/2/2021), Gubernur RBI Shaktikanta Das mengatakan, RBI telah mengemukakan kekhawatirannya terhadap aset-aset kripto sejak beberapa waktu lalu. Beragam masalah yang berpotensi muncul dari aset kripto diantaranya adalah pencucian uang hingga pendanaan untuk teroris.

Das melanjutkan, pihaknya telah menyampaikan kekhawatirannya pada pemerintah India. Menanggapi hal tersebut, pemerintah India tengah menyiapkan regulasi untuk melarang mata uang kripto swasta dan tengah merancang kerangka terkait untuk membuat mata uang kripto resminya sendiri.

Dia mengatakan, RBI siap mendukung rencana pembuatan mata uang digitalnya sendiri. Apabila hal ini terjadi, maka India akan mengikuti jejak bank sentral di China yang membuat electronic yuan sebagai mata uang digital.

Pada 2018 lalu, RBI juga telah melarang perbankan dan entitas terkait lainnya untuk transaksi kripto. Hal ini terjadi setelah penggunaan mata uang digital dalam kasus pemalsuan pada program demonetisasi Perdana Menteri India, Narendra Modi.

Meski demikian, Mahkamah Agung India telah memangkas sejumlah pelarangan terhadap aset-aset kripto pada tahun lalu seiring dengan petisi yang dilayangkan oleh bursa-bursa kripto di negara tersebut.

Adapun, Bitcoin, salah satu aset kripto paling populer di dunia, mengalami pergerakan yang fluktuatif selama lima tahun terakhir. Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia itu saat ini tengah menyentuh level US$50.000 setelah muncul pernyataan dukungan dari CEO Ark Investment Management, Cathie Wood.

Wood mengatakan, aset-aset kripto seperti Bitcoin tengah menjadi pilihan para investor jangka panjang, tidak hanya spekulan.

Meski demikian, sejumlah pihak mengkhawatirkan ‘gelembung’ harga Bitcoin pada akhirnya akan meletus. CEO Tesla Inc., Elon Musk melalui akun Twitternya mengatakan harga Bitcoin saat ini terbilang tinggi.

Sementara itu, Co-Founder Microsoft Corp., Bill Gates mengkhawatirkan para investor pemula yang hanya akan mengikuti tren ini dapat kehilangan uangnya. Kekhawatiran serupa juga diungkapkan Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, yang mengatakan Bitcoin adalah mata uang untuk transaksi yang sangat tidak efisien.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bitcoin mata uang kripto

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top