Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Minat Obligasi Korporasi Meningkat, Apa Saja Faktor Pendukungnya?

Tren semarak penerbitan obligasi korporasi kemungkinan akan berlanjut sepanjang tahun. Hal tersebut seiring dengan prospek pemulihan ekonomi global yang diharapkan terjadi pada 2021.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 17 Februari 2021  |  20:10 WIB
Karyawan melintas di dekat layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (9/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawan melintas di dekat layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (9/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Semarak penerbitan obligasi korporasi pada tahun 2021 akan ditentukan oleh prospek pemulihan ekonomi pada tahun ini. Kondisi sektoral masing-masing perusahaan juga menjadi katalis penting.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan tren semarak penerbitan obligasi korporasi kemungkinan akan berlanjut sepanjang tahun. Hal tersebut seiring dengan prospek pemulihan ekonomi global yang diharapkan terjadi pada 2021.

Ramdhan menjelaskan, seiring dengan prospek pemulihan ekonomi, perusahaan akan mengeksekusi rencana ekspansinya yang tidak terjadi pada tahun lalu karena pandemi virus corona.

Selain itu, korporasi juga berupaya menerbitkan obligasi guna melakukan refinancing atas utang-utang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat. Pemanfaatan momentum ini juga didukung oleh lonjakan permintaan terhadap instrumen investasi, termasuk surat utang.

“Pelaku pasar dan investor saat ini memiliki likuiditas yang cukup banyak dan memerlukan instrumen investasi dengan return maksimal,” jelasnya saat dihubungi pada Rabu (17/2/2021).

Di sisi lain, prospek penerbitan surat utang korporasi juga amat tergantung pada kondisi sektoral masing-masing perusahaan pada tahun ini. Apabila sebuah sektor tersebut pulih sejalan dengan perekonomian domestik dan global, maka peluang perusahaan untuk menerbitkan surat utang semakin besar.

Selain itu, keadaan tiap sektor yang beragam akan menentukan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk menerbitkan surat utang (cost of fund).

“Sebaliknya, bila sektor tersebut belum terlihat pulih, maka perusahaan akan cenderung mengerem penerbitan,” ujarnya.

Sentimen lain yang akan mempengaruhi penerbitan obligasi korporasi adalah track record dan rating utang perusahaan tersebut. Umumnya, minat investor terhadap obligasi perusahaan dengan rating yang biasa saja atau track record yang kurang baik akan rendah.

Sebaliknya, rekam jejak yang baik dan peringkat utang yang stabil akan meningkatkan selera investor dan penyerapan surat utang tersebut. Selain itu, cost of fund yang dikeluarkan perusahaan juga dapat ditekan.

Sebelumnya, data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) per 16 Januari 2021 mencatat, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 473 emisi dari 130 emiten dengan nilai nominal outstanding Rp 427,09 triliun dan US$ 47,5 juta.

Dari angka tersebut, jumlah emisi obligasi dan sukuk baru yang dicatatkan sepanjang tahun berjalan hingga sudah mencapai Rp 5,11 triliun dari 8 obligasi yang diterbitkan oleh 8 emiten.

Adapun, saat ini jumlah dan nilai obligasi/sukuk korporasi yang ada di pipeline BEI, tercatat ada 10 emisi yang terdiri dari 3 emisi sukuk dan 7 emisi obligasi, dengan total emisi yang akan diterbitkan sebesar Rp10,5 triliun.

“Outstanding obligasi korporasi mulai menunjukkan pertumbuhan pasca adanya penurunan yang disebabkan oleh pandemi,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna pada Rabu (17/2/2021).

Dia menyebut tren pertumbuhan penerbitan obligasi korporasi diperkirakan akan berlanjut seiring dengan hadirnya sejumlah katalis positif di pasar, salah satunya adalah momentum pemulihan ekonomi 2021.

“Ada kebutuhan dana ekspansi perusahaan di tahun 2020 yang tertunda, serta adanya tren refinancing perusahaan atas utang jatuh tempo,” tutur Nyoman.

Selain itu, kebijakan moneter dan fiskal yang tetap akomodatif dengan potensi tren suku bunga rendah yang terus berlanjut akan menurunkan cost of fund penerbitan surat utang korporasi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi Aksi Korporasi obligasi korporasi
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top