Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sepanjang Januari IHSG Turun 1,95 Persen, Saham HMSP, TLKM, hingga PGAS Jadi Penekan

Pada penutupan perdagangan Jumat (29/1/2021), sekaligus perdagangan terakhir Januari 2021, IHSG anjlok 1,96 persen atau 117,03 poin menjadi 5.862,35. Level itu menurun 1,95 persen dibandingkan penutupan IHSG akhir 2020, yakni 5.979,07.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 30 Januari 2021  |  06:56 WIB
Pengunjung menggunakan smarphone didekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Jakarta, Rabu (22/4/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Pengunjung menggunakan smarphone didekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Jakarta, Rabu (22/4/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Efek Januari (January Effect) yang digadang-gadang bakal kejadian untuk mendongkrak pasar saham di Indonesia tidak terjadi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mengalami koreksi.

Pada penutupan perdagangan Jumat (29/1/2021), sekaligus perdagangan terakhir Januari 2021, IHSG anjlok 1,96 persen atau 117,03 poin menjadi 5.862,35. Level itu menurun 1,95 persen dibandingkan penutupan IHSG akhir 2020, yakni 5.979,07.

Berdasarkan catatan Bisnis, sepanjang 10 tahun terakhir setidaknya ada tiga Januari di mana IHSG gagal mencetak kinerja positif, yakni Januari 2011 (-7,95 persen), Januari 2017 (-0,05 persen), dan January 2020 (-5,71 persen).

Adapun dalam kurun waktu 10 tahun tersebut, kinerja bulanan IHSG pada Januari paling tinggi terjadi tahun 2018 yakni menguat 3,93 persen, sedangkan penguatan paling minim terjadi pada 2019 yakni hanya naik 1 persen.

Sejumlah saham berkapitalisasi jumbo menjadi biang kerok penurunan IHSG. Saham emiten rokok PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) menjadi penekan utama sepanjang Januari dengan penurunan 13 persen. Kapitalisasi pasarnya sejumlah Rp152 triliun.

Selanjutnya, saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang merosot 19,5 persen turut menekan IHSG. Kapitalisasi pasarnya sebesar Rp83 triliun.

Sementara itu, saham BUMN berkapitalisasi jumbo seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) turut menjadi penekan indeks.

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich menjelaskan pelemahan IHSG belakangan ini dipengaruhi oleh tren perdagangan spekulatif yang membawa harga saham naik terlalu cepat.

Alhasil, penurunan mayoritas harga saham belakangan ini bisa terjadi karena investor merealisasikan keuntungan (profit taking)

“Sepertinya di Indonesia agak mirip di AS, disinyalir banyak speculative trading yang mengangkat harga naik terlalu cepat untuk beberapa saham yang kemudian sekarang koreksi,” kata Farash kepada Bisnis, Kamis (28/1/2021).

Di sisi lain, Farash melihat pasar saham masih kekurangan sentimen positif yang dapat mengangkat harga.

Terlebih beberapa hari terakhir lebih banyak berita lonjakan kasus Covid-19 yang berisiko menghambat pemulihan bisnis tahun ini.

Kepala Riset Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi menambahkan bahwa indeks sukar keluar dari zona merah tertekan oleh berita negatif lonjakan kasus virus corona berbarengan dengan penyesuaian bobot beberapa indeks saham di bursa.

Rebalancing portofolio di masa penyesuaian bobot beberapa Indeks klasifikasi baru hingga [investor] terbawa arus pesimistis indeks saham global menjadi faktor-faktor utama,” jelas Lanjar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG saham Indeks BEI January Effect
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top