Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wah, Selisih Yield SBN dan Obligasi Korporasi Diramal Kian Lebar

Pelebaran spread antara obligasi pemerintah (SBN) dengan obligasi korporasi kemungkinan kembali terjadi tahun ini mengingat risiko pasar tengah meningkat.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 25 Januari 2021  |  13:32 WIB
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Selisih antara imbal hasil atau yield surat berharga negara (SBN) dan obligasi korporasi melebar sepanjang 2020 lalu. Tahun ini, yield spread keduanya diperkirakan akan berjarak semakin jauh dari satu sama lain.

Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) jelang akhir 2020, secara rata-rata yield obligasi korporasi berperingkat AAA di semua tenor lebih rendah dibandingkan 2019. Namun, spread yield obligasi korporasi dengan SBN cenderung melebar.

Tercatat, spread yield obligasi korporasi berperingkat AAA dengan tenor 1 tahun menyentuh 204 bps, padahal pada 2019 spread-nya hanya 95 bps. Kemudian spread tenor lainnya berturut-turut 191 bps (3 tahun), 186 bps (5 tahun) dan 175 bps (10 tahun).

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan pelebaran yield spread tersebut disebabkan oleh beberapa hal antara lain yield SBN yang memang turun di akhir 2020 dan tren yield obligasi korporasi yang tak sejalan dengan SBN.

Dia menilai pelebaran spread antara keduanya kemungkinan kembali terjadi tahun ini mengingat risiko pasar tengah meningkat, salah satunya dilihat dari yield obligasi negara yang tengah mengalami kenaikan yang artinya harga SBN tengah menurun dan sebaliknya.

“Dua minggu terakhir SBN terus terkoreksi, risiko sedang meningkat. Kalau SBN saja begitu, apalagi obligasi korporasi,” ujar Ramdhan kepada Bisnis, baru-baru ini.

Menurut Ramdhan, yield SBN masih sangat mungkin kembali menguat alias mengalami penurunan karena pergerakan yield SBN cenderung lebih responsif terhadap sentimen pasar. Sebaliknya, pergerakan yield obligasi korporasi lebih lambat karena lebih banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti kondisi industri masing-masing penerbit.

Dia menyebut risiko pasar yang meningkat akibat masih tingginya ketidakpastian seiring pandemi yang belum terkendali membuat ekspektasi pasar terhadap yield obligasi korporasi semakin tinggi sehingga secara otomatis spreadnya kembali melebar.

“Meski sekarang sedang tertekan, SBN tetap instrumen paling secure jadi dia punya daya tahan baik sehingga penguatan yield SBN masih akan terjadi tapi tidak serta merta akan diikuti yield [obligasi] korporasi,” tuturnya.

Lebih lanjut, dia memperkirakan spread antara obligasi korporasi rating AAA dengan SBN akan berada di kisaran 200—250 bps tergantung tenor. Adapun, untuk obligasi korporasi AA, A, dan lainnya, akan melebar lebih jauh yakni selisih sekitar 25—50 bps antar notes.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi Obligasi Pemerintah obligasi korporasi
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top