Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Korporasi BUMN Diproyeksi Ramaikan Emisi Surat Utang 2021

Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), sejak 2017, outstanding obligasi BUMN berhasil selalu di atas 50 persen, mengungguli outstanding obligasi swasta.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 20 Januari 2021  |  21:36 WIB
Logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terpasang di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (2/7/2020). ANTARA FOTO - Aprillio Akbar
Logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terpasang di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (2/7/2020). ANTARA FOTO - Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA- Emiten pelat merah menunjukkan sinyal untuk meramaikan penerbitan surat utang korporasi pada tahun ini, setelah pada 2020 total outstanding emisi oleh BUMN berada jauh daripada ekspektasi.

Dari tahun ke tahun, perusahaan BUMN dan swasta kerap bersaing dalam nilai emisi surat utang. Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), sejak 2017, outstanding obligasi BUMN berhasil selalu di atas 50 persen, mengungguli outstanding obligasi swasta.

Adapun, nilai emisi oleh BUMN unggul pada 2016, 2017, dan 2019, tetapi kalah pada 2015, 2018, dan 2020. Pada tahun lalu, emisi surat utang baru BUMN hanya mencapai Rp43,12 triliun, turun tajam dibandingkan dengan 2019 yang mencapai Rp90,7 triliun.

Analis Pefindo Niken Indriarsih mengatakan bahwa penerbitan surat utang pada tahun lalu tidak disangka lebih didominasi oleh emiten non-BUMN.

“[Emisi] perusahaan non bumn malah mendominasi yaitu 55,4 persen dari total keseluruhan penerbitan surat utang 2020. Nilai emisi perusahaan non-BUMN sebesar Rp53,1 triliun, sedangkan emisi dari BUMN dan anak usahanya hanya sebesar Rp43,1 triliun,” papar Niken saat Pefindo Update, Selasa (19/1/2021).

Secara rinci, sektor lembaga keuangan khusus masih menjadi kontributor emisi terbesar dari keseluruhan emisi emiten BUMN dengan total Rp12,28 triliun. Sektor power dan energy menyusul dengan total emisi mencapai Rp8,54 triliun.

Selain itu, sektor pembiayaan juga berkontribusi cukup besar terhadap emisi surat utang BUMN yaitu sebesar Rp8,43 triliun.

Adapun, berkurangnya emisi oleh emiten pelat merah pada 2020 menyebabkan total outstanding surat utang tahun lalu menjadi lebih rendah. Nilai emisi surat utang korporasi secara nasional pada 2020 hanya mencapai Rp96,6 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan total emisi 2019 sebesar Rp146,48 triliun.

Namun, memasuki 2021 penerbitan surat utang oleh BUMN mulai menunjukkan sinyal positif. Hingga 18 Januari 2021, Pefindo telah mengantongi mandat penerbitan surat utang sebesar Rp32,2 triliun.

Sebanyak Rp18,01 triliun atau sekitar 55,9 persen dari total keseluruhan mandat merupakan rencana emisi oleh BUMN, sedangkan sisanya Rp14,19 triliun atau sekitar 44 persen berasal dari perusahaan non-BUMN.

Kendati demikian, jika diperinci jumlah penerbit BUMN yang berencana untuk emisi surat utang masih lebih kecil hanya 8 perusahaan dibandingkan dengan penerbit non-BUMN, yang mencapai 21 perusahaan.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan bahwa penerbitan surat utang tentu kembali akan bergantung dari kebutuhan setiap emitennya, termasuk perusahaan BUMN sekalipun.

“Kalau tahun lalu sepi, mungkin memang tidak ada kebutuhan dan ada opsi lain untuk menjaga likuiditas, jadi ngapain berhutang? Namun, kalau tahun ini banyak yang mulai emisi tandanya sudah ada kebutuhan,” ujar Nico kepada Bisnis, Selasa (19/1/2021).

Apalagi, lanjut dia, terdapat prospek pemulihan ekonomi pada tahun ini yang dapat menjadi semangat perusahaan BUMN untuk tumbuh lebih baik lagi.

Secara terpisah, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan bahwa seiring dengan proyeksi pemulihan ekonomi tahun ini, tidak sedikit korporasi yang sudah beralih mode ekspansi dari tahun sebelumnya mode pertahananan akibat pandemi Covid-19.

Dengan demikian, rencana emisi termasuk oleh BUMN yang sempat tertunda pada tahun lalu diperkirakan dapat terealisasi pada tahun ini.

“Tahun ini fokus untuk ekspansi, lebih percaya diri. Salah satunya yang mungkin akan ramai emisi tahun ini adalah sektor infrastruktur setelah tahun lalu banyak yang tertunda,” ujar Ramdhan kepada Bisnis, Rabu (20/1/2021).

Namun, dia menilai keagresifan penerbitan surat utang oleh BUMN juga masih bergantung kepada pengendalian penyebaran Covid-19 tahun ini dan distribusi vaksin.

Di sisi lain, prospek ramainya emisi surat utang BUMN diyakini akan menjadi kabar baik bagi investor. Saat ini, pasar sangat menanti obligasi oleh korporasi mengingat imbal hasil SBN cenderung kecil akibat suku bunga acuan yang juga rendah.

Untuk memaksimalkan keuntungan, fund manager cenderung akan menyeimbangkan portofolionya dari berbagai komoditi instrumennya. Dengan demikian, prospek penyerapan surat utang BUMN pun baik pada tahun ini.

“Apalagi, surat utang BUMN memiliki nilai tambah di mata investor karena walaupun totally bukan punya pemerintah, banyak proyek pemerintah di situ jadi BUMN tentu terjamin,” papar Ramdhan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi BUMN obligasi korporasi
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top