Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Suplai dan Permintaan Obligasi Korporasi Diproyeksi Meningkat

CIO Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula mengatakan dari sisi suplai atau penerbitan surat utang oleh korporasi akan semakin semarak tahun ini karena kegiatan ekonomi mulai bergulir kembali setelah tahun lalu banyak yang tertahan.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 19 Januari 2021  |  19:37 WIB
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo

Bisnis.com, JAKARTA — Permintaan maupun suplai obligasi korporasi dinilai akan meningkat pada tahun ini seiring dengan ekspektasi pemulihan ekonomi.

CIO Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula mengatakan dari sisi suplai atau penerbitan surat utang oleh korporasi akan semakin semarak tahun ini karena kegiatan ekonomi mulai bergulir kembali setelah tahun lalu banyak yang tertahan.

“Bisnis-bisnis yang sebelumnya nggak ekspansif tahun lalu, sekarang meningkakan modal kerja, sekarang membutuhkan modal dana untuk meningkatkan bisnisnya kembali. Dan sumber dana yang dibutuhkan mereka kalau nggak ke bank ya menerbitkan obligasi,” tuturnya kepada Bisnis, Selasa (19/1/2021)

Sementara itu, dari sisi permintaan juga dinilai akan meningkat karena tingkat likuiditas yang masih tinggi khususnya di pasar domestik karena masih banyak investor yang menahan untuk tetap menghimpun dananya.

Di sisi lain, harga surat utang negara (SUN) tengah dalam tren penurunan di awal tahun ini sehingga obligasi korporasi menjadi salah satu pilihan yang menarik bagi investor untuk mencari imbal hasil yang lebih kompetitif.

“Saya lihat permintaan untuk obligasi korporasi di kuaral IV/2020 sudah meningkat dan tahun ini akan lebih bagus lagi karena investor mencari yield dan melihat peluang ada di obligasi korporasi,” tutur Ezra lebih lanjut.

Peningkatan permintaan juga akan datang dari manajer investasi yang merupakan salah satu penyerap terbesar obligasi korporasi. Ezra menyebut setiap MI biasanya memiliki kriteria masing-masing dalam memilih aset dasar obligasi korporasi.

Adapun pihaknya cenderung memilih obligasi korporasi yang diterbitkan perusahaan sektor yang minim dampak pandemi dan tidak mengalami pelemahan berlebihan agar lebih stabil secara risiko.

Selain itu, dia juga mencari perusahaan dengan fundamental kuat, rasio utang rendah, profitabilitas yang tinggi, serta diutamakan memiliki sokongan dari holding grup yang bereputasi baik.

“Intinya yang berkualitas tinggi. Jadi fokusnya ke situ dulu,” kata dia.

Untuk tenor sendiri, Ezra mengaku tak ada kriteria khusus selain fokus ke tenor-tenor pendek 1 tahun—5 tahun. Pasalnya, dia menilai mayoritas perusahaan penerbit juga menawarkan obligasi dengan tenor demikian.

“Korporasi ini memang beda trennya [dengan SUN], yang diterbitkan sama perusahaan kebanyakan 5 tahun ke bawah jadi ya memang beda. Penerbit juga fokus pada 5 tahun ke bawah karena memang rata-rata kebutuhan pendanaan jangka pendek,” pungkasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi obligasi korporasi manajer investasi
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top