Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cari Utang, Obligor Diramal Pilih Tenor Pendek & Menengah

Kondisi pasar modal yang kembali terganggu akibat virus corona membuat emisi obligasi dengan masa jatuh tempo yang panjang tidak akan terlalu menarik baik untuk korporasi maupun calon investor.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 19 Januari 2021  |  18:02 WIB
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Kondisi pasar modal yang belum pulih sepenuhnya diprediksi akan membuat perusahaan lebih memilih untuk menerbitkan surat utang atau obligasi dengan tenor menengah dan pendek.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan, tingginya emisi obligasi korporasi bertenor pendek sepanjang 2020 lalu disebabkan oleh faktor ketidakpastian akibat pandemi virus corona.

Pandemi virus corona menyebabkan jatuhnya kondisi pasar yang turut berimbas pada kinerja perusahaan. Selain itu, minat investor untuk menaruh dananya di instrumen dengan tenor panjang juga rendah karena mereka lebih memilih memegang uang tunai.

“Obligasi korporasi dengan tenor pendek menjadi pilihan karena terbilang lebih aman di tengah ketidakpastian. Selain itu, minatnya juga cukup tinggi pada tahun lalu,” jelasnya saat dihubungi pada Selasa (19/1/2021).

Sementara itu, untuk tahun 2021, penerbitan obligasi korporasi akan lebih variatif.  Ramdhan menjelaskan, seiring dengan prospek pemulihan ekonomi, perusahaan akan mengeksekusi rencana ekspansinya yang tidak terjadi pada 2020 lalu karena pandemi virus corona.

Selain itu, korporasi juga berupaya menerbitkan obligasi guna melakukan refinancing atas utang-utang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat.

Meski demikian, menurutnya, perusahaan akan lebih banyak menerbitkan obligasi bertenor pendek dan menengah ketimbang tenor panjang. Kondisi pasar yang kembali terganggu akibat virus corona membuat emisi obligasi dengan masa jatuh tempo yang panjang tidak akan terlalu menarik baik untuk korporasi maupun calon investor.

“Memang akan berbeda dengan minat investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN) yang lebih banyak mengambil tenor panjang. SBN dari sisi risiko lebih minimal dibandingkan dengan obligasi korporasi,” paparnya,

Salah satu faktor pendukung hal ini adalah kondisi sektoral pada masing-masing perusahaan. Keadaan tiap sektor yang beragam akan menentukan jenis obligasi serta biaya penerbitan yang akan ditanggung perusahaan pada sebuah bidang usaha.

“Bila sektor usahanya belum pulih, sebesar apapun tenornya, hambatan dari sisi minat investor juga akan makin besar,” jelasnya.

Faktor lain yang akan menentukan jenis surat utang yang akan dipilih adalah track record dan rating utang perusahaan tersebut. Umumnya, perusahaan dengan rating yang biasa saja atau track record yang kurang baik akan kesulitan menemukan pembeli dalam penerbitan obligasi bertenor panjang.

Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), hingga 30 November 2020 surat utang dengan tenor 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun hampir mencakupi 83 persen dari total nilai penerbitan surat utang korporasi.

Lebih rinci, penerbitan surat utang tenor 3 tahun mencakup 35,6 persen dari total penerbitan, disusul oleh surat utang dengan tenor 1 tahun sebesar 29,7 persen, dan tenor 5 tahun sebesar 17,4 persen.

Sementara itu, tenor panjang seperti 7 tahun dan 10 tahun hanya berkontribusi masing-masing 6,1 persen dan 3,4 persen dari total penerbitan surat utang 2020.

Adapun, pada 2020 total penerbitan surat utang hanya mencapai Rp96,6 triliun. Dari total tersebut, penerbitan obligasi masih terbesar yaitu mencapai Rp80,05 triliun, diikuti emisi sukuk sebesar Rp7,89 triliun, dan MTN Rp6,75 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi obligasi korporasi Kinerja Emiten
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top