Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

9 Sektor Jadi Penekan, IHSG Loyo di Awal Perdagangan

IHSG terpantau melemah 0,43 persen atau 27,30 poin ke level 6.346,19 pada pukul 09.10 WIB, setelah dibuka pada level 6.365,03.
Karyawan beraktivitas didepan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (30/11/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan beraktivitas didepan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (30/11/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada awal perdagangan hari ini, Senin (18/1/2021).

IHSG terpantau melemah 0,43 persen atau 27,30 poin ke level 6.346,19 pada pukul 09.10 WIB, setelah dibuka pada level 6.365,03. Sebanyak 122 saham menguat, 222 saham melemah, dan 190 saham stagnan.

Sebanyak 9 dari 10 indeks sektoral terpantau menguat pagi ini, didorong oleh sektor tambang yang terkoreksi 1,79 persen dan pertanian yang melemah 1,34 persen. Di sisi lain, sektor properti menguat 0,41 persen.

Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper Jordan menjelaskan secara teknikal pergerakan IHSG menunjukkan dead cross pada indikator stochastic yang berada pada area overbought.

“[Indikator teknikal] mengindikasikan potensi untuk melanjutkan koreksi,” tulis Dennies dalam riset harian, Senin (18/1/2021).

Adapun, Dennies menjelaskan pergerakan IHSG pekan ini akan dibayangi kecemasan investor akan kenaikan kasus Covid-19. Selain itu, fokus investor juga akan mengarah ke rilis data perekonomian China.

Data pertumbuhan ekonomi China yang akan dikeluarkan oleh Biro Statistik Nasional diperkirakan naik menjadi 6,2 persen dari sebelumnya 4,9 persen.

Sementara itu, Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan investor mengalihkan perhatiannya kepada paket stimulus yang akan disahkan oleh Kongres Amerika Serikat. Sebelumnya, stimulus ini berada dibawah pengawasan karena data klaim pengangguran AS cukup suram dan AS mencatat angka kematian tertinggi akibat Covid-19.

“Pada awal pekan ini, investor akan menanti data di China yakni GDP kuartal ke-4 dengan ekspektasi naik menjadi 6.1 persen. Penjualan eceran dan pertumbuhan produksi industri juga diperkirakan cukup positif,” ungkap Lanjar dalam riset yang diterima Bisnis, Senin (18/1/2021).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper