Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Kedelai Global Masih Bertahan di Kisaran Level Tertinggi 2015

Sepanjang tahun berjalan 2021, harga kedelai di bursa komoditas Chicago telah naik 3,7 persen. Pergerakan itu pun melanjutkan tren penguatan yang terjadi pada tahun lalu.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 07 Januari 2021  |  15:45 WIB
Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (19/2/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (19/2/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Harga kedelai berjangka masih bertahan di sekitar level tertinggi dalam lebih dari 6 tahun terakhir seiring dengan kekeringan yang melanda Amerika Selatan dan tren pelemahan dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg pada perdagangan Kamis (7/1/2021) hingga pukul 14.58 WIB, harga kedelai berjangka untuk kontrak Maret 2021 di bursa Chicago naik 0,2 persen ke posisi US$13,64 per bushel, level tertinggi sejak 2015.

Sepanjang tahun berjalan 2021, harga telah naik 3,7 persen. Pergerakan itu pun melanjutkan tren penguatan yang terjadi pada tahun lalu. Pada 2020, harga meroket hingga 39,48 persen.

Analis pasar Farm Futures Jacqueline Holland mengatakan bahwa saat ini pasar kedelai masih dibayangi tekanan pasokan, terutama dari AS sebagai produsen kedelai terbesar kedua di dunia.

“Persediaan kedelai di AS diperkirakan menyusut ke level terendah dalam sejarah pada akhir tahun penanaman periode 2020-21,” ujar Holland seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (7/1/2021).

Sementara itu, Kepala Analis S&P Global Platt Peter J. Meyer mengatakan bahwa sentimen yang terjadi di Argentina tetap menjadi fokus pasar saat ini.

“Baik itu cuaca, pekerja pelabuhan yang mogok, tidak katalis yang lebih kuat selain dukungan harga yang datang dari Argentina,” ujar Meyer seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (7/1/2021).

United States Department of Agriculture (USDA) melihat adanya potensi pengurangan produksi kedelai dari Argentina karena cuaca kering yang melanda negara produsen kedelai terbesar dunia itu.

Selain itu, pemogokan massal yang terjadi di sejumlah pelabuhan di Argentina menjadi sentimen karena kekhawatiran pasar terhadap pengiriman komoditas itu di tengah pasokan yang sudah sulit.

Belum lagi, pasar juga khawatir adanya kebijakan proteksionisme makanan oleh Argentina untuk kedelai, setelah pemerintah negara itu sebelumnya menangguhkan ekspor jagung seiring dengan pasokan komoditas itu yang juga tengah dalam tekanan.

Sementara itu, salah satu perusahaan agrikultur Cargill Inc menjelaskan bahwa permintaan kedelai juga tengah menguat dipimpin oleh China, importir terbesar dunia.

Di sisi lain, tren pelemahan dolar AS juga telah menjadi salah satu katalis positif harga karena akan membuat kedelai lebih murah bagi investor dengan denominasi mata uang selain dolar AS.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama berada di posisi 89,557.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas harga kedelai
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top