Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menko Airlangga Harap Jumlah Himpunan Dana IPO 2021 Lebih Signifikan

Per Desember 2020 jumlah dana yang dihimpun di pasar modal melalui IPO hanya mencapai Rp5,49 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan total keseluruhan 2019 mencapai Rp14,78 triliun.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 04 Januari 2021  |  11:09 WIB
Dari kiri-kanan: Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartanto, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi dalam Seremoni Pembukaan Perdagangan BEI Tahun 2021, Senin (4/1 - 2021).
Dari kiri-kanan: Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartanto, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi dalam Seremoni Pembukaan Perdagangan BEI Tahun 2021, Senin (4/1 - 2021).

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berharap penghimpunan dana dari penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) pada 2021 dapat naik signifikan daripada tahun lalu.

Hal itu mengingat per Desember 2020 jumlah dana yang dihimpun di pasar modal melalui IPO hanya mencapai Rp5,49 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan total keseluruhan 2019 mencapai Rp14,78 triliun.

“BEI menargetkan 30 perusahaan dapat IPO tahun ini, tetapi kami harapkan jumlah dananya bisa cukup signifikan. Apalagi disampaikan yield SBN juga sudah rendah, jadi bisa dorong minat untuk banyak yang IPO dan mencari dana di pasar modal,” ujar Airlangga saat membuka perdagangan Bursa Efek Indonesia 2021, Senin (4/1/2020).

Secara terpisah, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarndo Djajadi menargetkan jumlah perusahaan tercatat yang melakukan IPO pada 2021 hanya sebanyak 30 perusahaan.

Target tersebut lebih rendah dibandingkan dengan jumlah perusahaan yang melantai bursa sepanjang 2020, yaitu sebesar 51 perusahaan tercatat.

Padahal, realisasi tersebut mengantarkan Indonesia menjadi bursa dengan jumlah IPO terbanyak di Asia Tenggara. Tak hanya itu, jumlah IPO di bursa Indonesia sepanjang 2020 menduduki posisi terbanyak ke-6 di dunia. Indonesia mengekor bursa Shanghai 180 perusahaan, Nasdaq 119 perusahaan, Shenzhen 115 perusahaan, Hong Kong 99 IPO, dan Jepang 54 perusahaan.

Selain itu, BEI juga menargetkan rata-rata transaksi harian atau RNTH bursa mencapai Rp8,8 triliun pada 2021. Lagi-lagi, target tersebut sesungguhnya lebih rendah daripada pencapaian tahun ini. BEI mencatat RNTH hingga 29 Desember 2020 mencapai Rp9,18 triliun. 

Kendati target tersebut lebih rendah, Inarno mengaku pihaknya memiliki ruang untuk melakukan peninjauan ulang dan merevisi RKAT tersebut kepada OJK tahun depan.

“Jangan khawatir, kami akan mereview gradually dan melihat perkembangan bulan ke bulan apakah target ini relevan atau kami bisa tingkatab. Kami bisa revisi kembali RKAT,” papar Inarno.

Di sisi lain, mendorong optimisme pasar, pada perdagangan pertama 2021, BEI kedatangan emiten baru, yaitu PT FAP Agri Tbk. Emiten berkode saham FAPA itu menjadi emiten pertama yang IPO pada tahun ini dan menggalang dana hingga Rp1 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia airlangga hartarto initial public offering
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top