Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

51 Perusahaan Masuk Bursa Tahun Lalu, Sahamnya Banyak yang Naik Fantastis

Sebanyak 27 dari 51 emiten anyar yang IPO tahun lalu mencetak kenaikan harga saham di atas 50 persen pada penutupan perdagangan terakhir di 2020.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 01 Januari 2021  |  16:15 WIB
Direksi PT Djasa Ubersakti Tbk. berfoto bersama setelah mencatakan saham dengan kode PTDU di Bursa Efek Indonesia pada Senin (8/12/2020). - BEI
Direksi PT Djasa Ubersakti Tbk. berfoto bersama setelah mencatakan saham dengan kode PTDU di Bursa Efek Indonesia pada Senin (8/12/2020). - BEI

Bisnis.com, JAKARTA - Mayoritas saham anyar yang menggelar penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) sepanjang 2020 membukukan kenaikan harga signifikan di atas 100 persen.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, dari 51 perusahaan tercatat baru pada 2020 sebanyak 27 saham mengalami lonjakan harga saham di atas 50 persen dan 9 saham menguat di bawah 30 persen.

Sementara itu, 9 saham lainnya berakhir di zona merah dengan pelemahan terdalam hingga 50 persen. Adapun, 6 harga saham yang tercatat di papan akselerasi tidak dimasukkan karena pergerakan harganya tidak memengaruhi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Kenaikan harga saham tertinggi dicetak oleh saham PT Djasa Ubersakti Tbk. (PTDU) yang meroket 577,78 persen menjadi Rp915 per saham sejak dicatatkan pada 8 Desember 2020.

Selanjutnya saham PT Sumber Global Energy Tbk. (SGER) mengalami lonjakan harga 557,41 persen menjadi Rp710 persen sejak dicatatkan pada 10 Agustus 2020.

Saham bungsu PT Solusi Sinergi Utama Tbk. (WIFI) yang tercatat pada hari terakhir perdagangan 2020 ditutup menguat 25,53 persen menjadi Rp650 per saham.

Tak mau kalah, saham PT Bhakti Multi Artha Tbk. (BHAT) melesat 501,94 persen menjadi Rp620 per saham sejak dicatatkan pada 15 April 2020.

Di sisi lain, saham PT Agro Yasa Lestari Tbk. (AYLS) dan PT Karya Bersama Anugerah Tbk. (KBAG) terpuruk hingga 50 persen ke level gocap Rp50 per saham sejak diperdagangkan pertama kalinya pada 12 Februari 2020 dan 8 April 2020.

Di sepanjang 2020, terdapat 51 emiten baru di lantai bursa dengan nilai yang dihimpun beragam mulai Rp12 miliar hingga Rp1,03 triliun.

Bursa Efek Indonesia pun menargetkan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) sebanyak 30 perusahaan pada 2020. 

Kendati target tersebut lebih rendah, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi mengatakan pihaknya memiliki ruang untuk melakukan peninjauan ulang dan merevisi Rencana Kegiatan dan Anggaran Tahunan (RKAT) kepada OJK pada 2021.

“Jangan khawatir, kami akan me-review gradually dan melihat perkembangan bulan ke bulan apakah target ini relevan atau kami bisa tingkatkan. Kami bisa revisi kembali RKAT,” papar Inarno saat konferensi pers penutupan perdagangan BEI, Rabu (30/12/2020).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia ipo Djasa Ubersakti
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top