Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Di Tengah Pandemi, Bursa Berjangka Cetak Rekor Bersejarah

Jakarta Futures Exchange (JFX) dan Indonesia Commodity Derivatives Exchange (ICDX) mencatat lonjakan transaksi hingga memecahkan rekor sepanjang masa tahun ini. Kenaikan harga komoditas dan jumlah investor yang kian melek investasi berjangka menjadi penopang pertumbuhan transaksi selama 2020.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 29 Desember 2020  |  19:06 WIB
Karyawan mengamati Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), di galeri Bursa Bejangka Komoditi , Jakarta, Senin (15/5). - JIBI/Endang Muchtar
Karyawan mengamati Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), di galeri Bursa Bejangka Komoditi , Jakarta, Senin (15/5). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan semangat pasar perdagangan berjangka komoditi. Dua bursa berjangka di Indonesia berhasil membukukan pertumbuhan transaksi fantastis, bahkan mencetak rekor sepanjang sejarah.

Hingga penutupan perdagangan  Senin (28/12/2020), Jakarta Futures Exchange (JFX) berhasil membukukan volume transaksi multilateral dan bilateral sebesar 9,4 juta lot.

Kinerja tersebut memecahkan rekor yang pernah dicapai pada tahun 2011 atau sepanjang sejarah JFX yaitu sebesar 7,58 juta lot. Selain itu, pencapaian tersebut juga telah melampaui target transaksi tahun ini di kisaran 8,25 juta dan melebihi volume transaksi pada 2019 sebesar 7,94 juta lot.

Direktur Utama Jakarta Futures Exchange Stephanus Paulus Lumintang mengatakan bahwa pencapaian luar biasa tersebut merupakan rekor terbaik JFX sejak 20 tahun beroperasi.

Pencapaian tersebut pun tetap  terjadi kendati pasar dibayangi pandemi Covid-19 yang melemahkan pertumbuhan industri lainnya dan menjadi sentimen utama pergerakan harga komoditas.

Pada pertengahan perdagangan tahun ini, harga emas global berhasil ke posisi tertinggi sepanjang sejarah di US$2.000 per troy ounce, harga minyak sempat anjlok ke area negatif, dan harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) yang sempat melemah ke bawah 2.500 ringgit per ton tetapi berhasil  ke atas level 3.000 ringgit per ton menjelang akhir tahun.

“Volatilitas harga komoditas  yang terjadi sepanjang 2020 justru menjadi magnet dan momentum baik industri perdagangan berjangka komoditi, sebagai daya tarik tersendiri bagi para investor untuk melakukan transaksi,” ujar Paulus kepada Bisnis, Selasa (29/12/2020).

Paulus juga menjelaskan bahwa  pertumbuhan volume transaksi itu juga tidak luput dari meningkatnya kesadaran investor untuk memilih aset investasi alternatif, perdagangan berjangka.

Adapun, Paulus juga mengaku pertumbuhan fantastis tahun ini menjadi bekal optimisme JFX untuk mengejar target transaksi tahun depan yang naik ke posisi 11,1 juta lot.

Semula JFX menargetkan transaksi 10 juta lot pada 2021, terdiri atas 2 juta lot transaksi multilateral dan 8 juta transaksi bilateral. Namun, Bappebti meminta JFX untuk menaikkan target menjadi 11,1 juta lot, terdiri atas 3,1 juta lot multilateral dan 8 juta lot bilateral.

Untuk mengejar target tersebut, Paulus menyiapkan strategi kerja sama dengan bursa luar negeri untuk meningkatkan volume transaksi multilateral. Dia mengaku tengah berdiskusi dengan beberapa bursa Asia. Selain itu, JFX juga tengah menyiapkan revitalisasi kontrak olein pada tahun depan.

Sementara itu bursa berjangka  Indonesia lainnya, yaitu Indonesia Commodity Derivatives Exchange (ICDX) berhasil membukukan angka fantastis untuk perdagangan multilateral di tahun 2020 dengan nilai transaksi mencapai Rp18 triliun.

CEO ICDX Lamon Rutten mengatakan pertumbuhan signifikan ini menunjukkan berkembangnya minat para investor terhadap produk berjangka komoditi khususnya produk multilateral. Pandemi Covid-19 pun terbukti tidak menjadi hambatan.

"Sebaliknya, investor justru  melihat peluang investasi pada perdagangan produk-produk multilateral ICDX," paparnya dalam keterangan resmi, Selasa (29/12/2020).

Lamon Rutten, Chief Executive Officer Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia atau Indonesia Comodity & Derivatives Exchange (ICDX). - Bisnis/Endang Muchtar

Lamon Rutten, Chief Executive Officer Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia atau Indonesia Comodity & Derivatives Exchange (ICDX). - Bisnis/Endang Muchtar

Sebagai kontrak spot multilateral forex pertama di Asia Tenggara, GOFX (Gold, Oil, Forex) telah mengalami pertumbuhan volume yang fantastis sejak diperkenalkan kepada publik di tahun 2018, tumbuh 1.991 persen pada  2020.

Rata-rata kenaikan volume transaksi mencapai sekitar 900 persen setiap tahunnya. Secara keseluruhan, transaksi GOFX ini turut berkontribusi secara signifikan dalam pertumbuhan volume transaksi multilateral di bursa ICDX.

Mendukung pertumbuhan tersebut, ICDX juga telah meluncurkan 6 kontrak derivatif baru di tahun 2020, yakni kontrak berjangka minyak mentah berbasis USD, kontrak spot emas berbasis rupiah, dan beberapa kontrak spot cross rate  valuta asing.

Menyambut tahun 2021, ICDX menargetkan adanya peningkatan yang signifikan melalui pengembangan berbagai  kontrak derivatif multilateral baru di tahun 2021, serta program edukasi dan literasi untuk berbagai kalangan, terutama generasi muda yang tertarik dengan pasar finansial.

ICDX juga akan melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak sebagai partner dalam mengembangkan industri  perdagangan berjangka komoditi Indonesia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Emas Hari Ini komoditas bursa berjangka icdx jfx
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top