Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Pertimbangkan Prospek Stimulus, Indeks S&P 500 Cetak Rekor

Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,32 persen pada awal perdagangan, sedangkan indeks Nasdaq Composite naik 0,28 persen. Sementara itu, indeks indeks S&P 500 menguat tipis 0,09 persen dan memperbarui rekor tertingginya sepanjang masa. 
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 03 Desember 2020  |  22:05 WIB
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. - Bloomberg/Michael Nagle
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. - Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat menguat tipis pada awal perdagangan Kamis (3/12/2020) karena investor mempertimbangkan prospek dukungan fiskal baru dari Washington.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,32 persen pada awal perdagangan, sedangkan indeks Nasdaq Composite naik 0,28 persen. Sementara itu, indeks indeks S&P 500 menguat tipis 0,09 persen dan memperbarui rekor tertingginya sepanjang masa. 

Sektor sektor real estat dan konsumer memimpin kenaikan indeks S&P 500. Saham Micron Technology Inc. naik setelah produsen chip tersebut meningkatkan proyeksi pendapatan tahun ini. Saham International Paper Co. melonjak setelah mengumumkan rencana spin-off.

“Prospek untuk paket bantuan Covid baru akan menjadi topik utama dalam waktu dekat untuk pasar saham yang luas,” kata kepala strategi Miller Tabak+Co. Matt Maley, seperti dikutip Bloomberg.

“Dengan kata lain, berita negatif tentang masalah ini akan menyebabkan pasar menurun, sementara berita positif apa pun akan membantunya reli," lanjutnya.

Fokus investor beralih ke proposal Partai Demokrat untuk memecahkan kebuntuan stimulus yang dapat memberikan pendorong potensial bagi reli pasar saham. Ketua DPR Nancy Pelosi dan pemimpin Senat Partai Demokrat Chuck Schumer menyekapati proposal paket stimulus senilai US$908 miliar.

“[Kompromi kesepakatan] akan lebih condong kepada upaya menstabilkan daripada menstimulasi ekonomi, tetapi peningkatan tunjangan pengangguran dapat mengurangi kekhawatiran orang-orang yang bekerja dan mendorong mereka untuk menghabiskan tabungan yang terkumpul selama lockdown," tulis kepala ekonom UBS Global Wealth Management, Paul Donovan.

Sementara itu, klaim tunjangan pengangguran negara bagian AS turun paling tajam dalam hampir dua bulan terakhir pada pekan lalu. Hal ini menjunukkan harapan bahwa pemulihan bertahap di pasar tenaga kerja akan terus berlanjut.

Berdasarkan data Bloomberg, Departemen Tenaga Kerja mencatat klaim pengangguran awal dalam program negara reguler turun 75.000 menjadi 712.000 pada pekan yang berakhir 28 November. Ini merupakan penurunan pertama dalam tiga pekan terakhir.

Sementara itu, klaim lanjutan, yang merupakan total warga AS yang mengajukan klaim tunjangan secara keseluruhan, turun 569.000 menjadi 5,52 juta di pekan yang berakhir 21 November.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street

Sumber : Bloomberg

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top