Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penjualan ST007 Dinilai Baik Meski Belum Tembus Rp5 Triliun, Mengapa?

Sifat ST007 yang tidak dapat diperdagangkan memang akan memunculkan hambatan tersendiri bagi para investor.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 23 November 2020  |  17:47 WIB
 Ilustrasi Sukuk Negara Ritel. - JIBI/Nurul Hidayat
Ilustrasi Sukuk Negara Ritel. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Penjualan instrumen surat utang ritel terakhir yang terbit tahun ini, yakni Sukuk Tabungan seri ST007 telah menyentuh angka Rp4 triliun.

Berdasarkan data yang dilansir dari salah satu mitra distribusi daring hari ini, Senin (23/11/2020) sekitar pukul 13.10 siang, total penjualan ST007 telah menyentuh Rp4,09 triliun. Adapun sisa batas pemesanan tercantum sekitar Rp902,94 miliar dari target pemesanan Rp5 triliun.

Namun, realisasi tersebut masih di bawah penjualan ORI018 pada Oktober lalu yang mencapai Rp12,97 triliun, begitu pula jika dibandingkan dengan penjualan instrumen sukuk ritel yang diterbitkan sebelum ST007 yaitu sukuk ritel seri SR013 yang mencapai Rp25,67 triliun.

Meski demikian, Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas Ariawan mengatakan hasil tersebut terbilang cukup besar. Pasalnya, sifat ST007 yang tidak dapat diperdagangkan memang akan memunculkan hambatan tersendiri bagi para investor.

Ariawan menjelaskan, umumnya obligasi ritel yang sifatnya non tradeable dapat mengumpulkan penjualan Rp2 triliun hingga Rp3 triliun. Sehingga, catatan penjualan ST007 terbilang bagus dan mengikuti tren kenaikan minat masyarakat terhadap surat berharga negara (SBN) ritel.

“Ini berarti investor ritel Indonesia mulai meminati instrumen yang tidak dapat diperdagangkan,” katanya saat dihubungi pada Senin (23/11/2020).

Sebelumnya, Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kementerian Keuangan Dwi Irianti Hadiningdyah mengatakan seri ST007 merupakan instrumen yang tak dapat diperdagangkan atau nontradable sehingga minat investor tak sebesar pada seri lainnya. 

Di sisi lain, dia mengungkapkan pemerintah juga pada dasarnya tidak memasang target tinggi untuk instrumen satu ini, apalagi ST007 juga merupakan instrumen surat utang ritel terakhir yang terbit tahun ini.

Ngga besar karena sudah dipenuhi di sukuk ritel di awal dan ORI di awal, kita tahu pula di akhir tahun banyak yang sudah siap-siap cash-nya buat tahun baru dan sebagainya sehingga target kita tidak bisa besar,” jelas Dwi dalam paparan via daring, pekan lalu.

Instrumen Sukuk Tabungan seri ST007 diterbitkan tanpa warkat dan tidak dapat diperdagangkan (non-tradable). Sukuk tabungan ini juga tidak dapat dicairkan sampai dengan jatuh tempo kecuali pada periode early redemption. Masa jatuh tempo ST007 adalah pada 10 November 2022.

Kupon yang ditawarkan pada ST007 bersifat mengambang dengan batas minimal sesuai dengan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia. Untuk periode pertama, yang akan dibayar pada tanggal 10 Januari 2021 dan tanggal 10 Februari 2021, berlaku kupon sebesar 5,5 persen.

Tingkat kupon untuk periode 3 bulan pertama sebesar 5,5 persen tersebut berlaku sebagai tingkat kupon minimal (floor). Tingkat kupon minimal tidak berubah sampai dengan jatuh tempo. ST007 memiliki underlying asset berupa Barang Milik Negara (BMN) dan Proyek APBN tahun 2020, termasuk green asset.

Pemerintah telah menetapkan jumlah minimum pemesanan ST007 sebesar Rp1 juta dan nilai maksimum sebesar Rp3 miliar. Penetapan hasil penjualan akan dilakukan pada 30 November 2020, sedangkan setelmen akan dilaksanakan pada 2 Desember 2020.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi sukuk tabungan
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top