Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saat Robby Sumampow Tutup Usia, Laba Bersih Indo Kordsa (BRAM) Anjlok 95 Persen

Saat Robby Sumampow tutup usia, PT Indo Kordsa Tbk. (BRAM) tengah berjuang melalui pandemi virus corona atau Covid-19 seiring dengan kinerja keuangan yang melorot.
Gajah Kusumo
Gajah Kusumo - Bisnis.com 12 Oktober 2020  |  12:29 WIB
Persidangan Robby Sumampouw di PN Solo. JIBI - Solopos
Persidangan Robby Sumampouw di PN Solo. JIBI - Solopos

Bisnis.com, JAKARTA — Robby Sumampow, pendiri PT Indo Kordsa Tbk., yang dulu bernama PT Branta Mulia Tbk., dan mengempit 23,92 persen atau 107,63 juta lembar saham emiten bersandi BRAM tutup usia di Singapura pada Minggu (11/10/2020) sekitar pukul 23.00 WIB.

Dalam komposisi pemegang saham BRAM, Robby merupakan pemegang saham terbesar kedua setelah Korsa Teknik Tekstil AS sebesar 61,59 persen atau 277,15 juta lembar saham.

Dengan harga saham BRAM senilai Rp4.190 per lembar pada Senin (12/10/2020), maka nilai kepemilikan saham Robby di Indo Kordsa setara Rp451,01 miliar.

Adapun, kinerja keuangan PT Indo Kordsa Tbk. (BRAM), emiten yang sudah melantai sejak 30 tahun lalu dengan nama PT Branta Mulia Tbk., tengah tertatih-tatih di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

Pasalnya, laba bersih BRAM pada semester I/2020 tercatat hanya sebesar US$411,80 ribu atau sekitar Rp6,07 miliar (asumsi kurs Jisdor BI Rp14.746 per dolar AS), turun 95,46 persen dari laba bersih pada periode sama tahun sebelumnya Rp133,8 miliar.

Adapun, pendapatan perseroan pada paruh pertama tahun ini tercatat US$75,58 juta atau sekitar Rp1,11 triliun, turun 38,67 persen dari Rp1,81 triliun pada semester I/2019.

Saat ini, emiten yang memproduksi kain ban, benang nylon & polyester, benang serat industri/benang filamen buatan dan berdiri sejak 8 Juli 1981, dinakhodai oleh Mehmet Zeki Kanadikirik sebagai Presiden Direktur, sedangkan Ali Caliskan sebagai Presiden Komisaris

Adapun, komposisi kepemilikan saham Indo Kordsa, emiten dengan kapitalisasi pasar Rp1,89 triliun, yaitu Kordsa Teknik Tekstil AS sebanyak 61,59 persen atau 277,15 juta lembar saham, Robby Sumampow (23,92 persen), PT Risjadson Suryatama (5,61 persen), dan publik atau masyarakat sebanyak 8,88 persen.

Sebagai informasi, pada 1985, Robby membawa perseroan membuka pabrik kain ban pertamanya di Citeureup, Bogor, Jawa Barat. Selanjutnya kegiatan operasi secara komersil dimulai pada 1 April 1987.

Saham Perseroan juga mulai tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada 1990 dengan nama PT Branta Mulia Tbk.

Sejak saat itu, banyak pembaharuan dan peningkatan nilai yang dilakukan demi kepentingan pemangku kepentingan, antara lain, pada Oktober 1990, BRAM melakukan ekspansi dengan mendirikan perusahaan patungan yang diberi nama Thai Branta Mulia Co.Ltd., dan pada 1993, Perseroan membuka pabrik kain ban di Ayutthaya, Thailand.

Selanjutnya, BRAM mendirikan PT Branta Mulia Teijin Indonesia bekerja sama dengan Teijin Limited Jepang pada awal 1996 untuk memproduksi benang ban polyester, dan produksi komersial dimulai pada 1997 di Citeureup, Bogor, Jawa Barat.

Pada 1997, DuPont Chemical and Energy Operation Inc. mengakuisisi saham BRAM sebanyak 19,78 persen saham. Akuisisi tersebut memberi angin segar bagi Perseroan karena kerja sama tersebut menghasilkan aliansi strategis hingga Januari 2006.

Kerja sama tersebut berakhir pada 2006 ketika DuPont menjual seluruh sahamnya kepada beberapa pemegang saham pendiri PT Branta Mulia Tbk.

Pada 1999, perseroan sempat mencabut pencatatan sahamnya di Bursa Efek Surabaya (BES). Perseroan meningkatkan kepemilikan sahamnya di Thai Branta Mulia Co Ltd dari 49 persen menjadi 64,19 persen pada 2000.

Pada 2006, Kordsa Global AS, yang merupakan salah satu perusahaan dalam Turki Sabanci Holding Group, membeli 51,3 persen saham Perseroan. Sampai dengan 2018, Kordsa Global telah meningkatkan sahamnya menjadi 61,59 persen dan perseroan berganti nama menjadi PT Indo Kordsa Tbk.

Kepemilikan saham Perseroan di PT Indo Kordsa Teijin meningkat pada 2008 menjadi 99,90 persen dengan membeli saham yang dimiliki oleh Teijin Fibers Limited sehingga pada 2009, PT Indo Kordsa Teijin berganti nama menjadi PT Indo Kordsa Polyester (IKP).

Adapun, sepanjang 2020, harga saham BRAM sudah melorot 61,20 persen ke level Rp4.190 per saham, sedangkan dalam 3 tahun terakhir harga sahamnya amblas72,02 persen.

Robby Sumampow dikabarkan meninggal dunia di Singapura pada Minggu (11/10/2020) sekitar pukul 23.00 WIB. Hari ini, Senin (12/10/2020) ini, jenazah Robby rencananya akan dibawa kembali ke Solo.

Tokoh masyarakat Solo, Sumartono Hadinoto, saat dihubungi solopos.com mengonfirmasi meninggalnya Robby di Singapura pada Minggu (11/10/2020) malam.

“Iya betul, tadi malam aku jam 23.00 WIB lebih dapat berita dari teman, terus jam 01.00 WIB dari keponakannya. Pagi ini aku koordinasi dengan keponakannya, kelihatannya jadi dibawa ke Solo. Baru ngecek Tiong Ting Solo,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham emiten indo kordsa kinerja keuangan Robby Sumampow
Editor : Gajah Kusumo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top