Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jumlah Cadangan di AS Naik, Harga Minyak Dunia Terkoreksi Tipis

Pasar minyak tengah menghadapi sejumlah sentimen negatif, seperti lonjakan kasus virus corona dan juga kenaikan pasokan minyak dunia.
Ilustrasi. Kapal tanker pengangkut minyak./Bloomberg
Ilustrasi. Kapal tanker pengangkut minyak./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia terpantau stabil mendekati level US$40 per barel setelah aksi jual yang dilakukan karena lonjakan cadangan minyak mentah di AS. Hal tersebut juga ditopang oleh penutupan sejumlah kilang minyak di Teluk Meksiko akibat badai yang akan datang.

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (8/10/2020),  harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan November 2020 terpantau di level US$39,82 per barel atau turun 0,3 persen pada New York Mercantile Exchange hingga pukul 09.25 waktu Singapura.

Selain itu, harga minyak Brent untuk kontrak bulan Desember 2020 berada di kisaran US$41,88 per barel atau terkoreksi 0,3 persen pada bursa berjangka Eropa ICE. Harga minyak Brent turun 1,6 persen pada penutupan kemarin.

Harga minyak dunia juga terkoreksi setelah Presiden AS Donald Trump menghentikan pembahasan paket stimulus fiskal. Meski demikian, pasar tetap optimistis akan ada kucuran stimulus dari Negeri Paman Sam tersebut.

Adapun pasar minyak tengah menghadapi sejumlah sentimen negatif, seperti lonjakan kasus virus corona dan juga kenaikan pasokan minyak dunia. Vitol Group memperkirakan OPEC+ akan mengubah haluannya terkait kebijakan pemangkasan produksi pada Januari mendatang.

Sementara itu, data dari pemerintah AS menunjukkan jumlah cadangan minyak mentah naik 501 ribu barel pada pekan lalu. Sementara itu, jumlah pasokan ke pusat penyimpanan minyak AS di Cushing, Oklahoma mencatatkan kenaikan tertinggi sejak Mei lalu.

Adapun, jumlah cadangan bahan bakar AS berkurang sebanyak 1,4 juta barel sekaligus membawa jumlah cadangan ke level rata-rata terendah dalam lima tahun terakhir.

Para operator kilang minyak di Teluk Meksiko juga telah menutup 80 persen kegiatan operasinya untuk bersiap menghadapi Badai Delta yang telah melintasi Semenanjung Yucatan dan diperkirakan akan datang di pantai Louisiana pada Jumat mendatang.

Badai Delta tidak hanya mengancam kegiatan operasi para operator kilang minyak, tetapi juga berpotensi menghambat permintaan.Salah satu operator, Phillips 66 menunda pembukaan kembali kilang minyaknya di Lake Charles karena badai tersebut. 

"Penutupan di Teluk Meksiko sudah masuk dalam perhitungan para pelaku pasar. Dari sini, pergerakan naik harga minyak akan terbatas. Tetapi, jika proses produksi minyak ke level normal berjalan lebih lama, hal ini akan mendorong harga minyak," jelas Ed Moya, analis OANDA Corp

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper