Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Proyeksi Saham Emiten Sektor Layanan Kesehatan di Tengah Pandemi

Meskipun terjadi penurunan tajam dalam trafik pasien, Pendapatan per hari rawat inap akan terus tumbuh, seiring dengan peningkatan jumlah pasien Covid-19 dalam perawatan.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 28 September 2020  |  19:55 WIB
Uji kandidat vaksin Covid-19.  - Jhonson & Jhonson
Uji kandidat vaksin Covid-19. - Jhonson & Jhonson

Bisnis.com, JAKARTA – Penguatan saham emiten farmasi dalam beberapa bulan terakhir tampaknya akan berpengaruh pada sektor layanan kesehatan yang didominasi oleh emiten rumah sakit.

Memang, dengan anggaran kesehatan negara yang terbatas, infrastruktur kesehatan Indonesia baik dalam bidang peralatan dan tenaga medis terbilang masih tertinggal dari negara Asia Tenggara lainnya.

Hal ini seringkali menjadi alasan dibalik biaya rawat inap di rumah sakit swasta di Indonesia terhadap PNB per kapita saat ini relatif menempati urutan tertinggi di antara negara Asia Tenggara lainnya. Sementara, sejak BPJS Kesehatan didirikan pada tahun 2014, DJS (Dana Jaminan Sosial) Kesehatan secara konsisten membukukan defisit anggaran kecuali pada tahun 2016.

Hingga saat ini juga belum ada penyesuaian apapun terhadap INA-CBGs (Indonesia Case Base Groups) atau sistem pembayaran paket yang berdasarkan penyakit yang diderita pasien hingga jadwal dan tarif penyesuaian masih belum jelas.

Mirae Asset Sekuritas menilai bahwa setelah turun 9 persen hingga 8 persen pada tahun 2020, pemanfaatan fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL) baik rawat inap maupun rawat jalan akan tumbuh masing-masing 7 persen dan 5 persen pada tahun 2021. Sehingga, titik balik akan terjadi antara kuartal ketiga dan kuartal keempat tahun 2021.

Analis Mirae Asset Sekuritas Joshua Michael mengatakan bahwa dengan pertumbuhan yang stabil dan jangka waktu pembayaran yang lebih pendek, perolehan pendapatan pasien dari asuransi swasta dan korporasi bisa jadi cara terbaik untuk menyeimbangkan pertumbuhan pendapatan, tingkat profitabilitas, dan arus kas.

“Kami perkirakan jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di Jakarta mencapai 11.112 pada akhir tahun ini, lebih dari dua kali lipat jumlah saat ini yang sebanyak 4.468,” ungkap Joshua dikutip dari publikasi risetnya, Senin (28/9/2020).

Trafik rawat inap dinilai telah mencapai titik terendahnya pada kuartal kedua tahun 2020 karena rumah sakit akan mendapatkan keuntungan dari ketidakseimbangan pasokan-permintaan terkait penanganan Covid-19. Namun, kunjungan pasien rawat jalan mungkin tetap rendah selama sisa tahun ini.

Biaya pengobatan harian Covid-19 dianggap jauh lebih tinggi dari rata-rata biaya rawat inap. Apalagi beberapa rumah sakit mengharuskan semua pasien menjalani tes PCR sebelum operasi. Oleh karena itu, meskipun terjadi penurunan tajam dalam trafik pasien, Pendapatan per hari rawat inap akan terus tumbuh, seiring dengan peningkatan jumlah pasien Covid-19 dalam perawatan.

“Meskipun realisasi anggaran kesehatan berjalan lamban, baik PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) dan PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) melaporkan tidak ada penundaan pembayaran dari Kemenkes yang signifikan,” sambungnya.

Sinovac (China) telah berkomitmen untuk memasok vaksin (CoronaVac) agar PT Bio Farma (Persero) dapat memproduksi setidaknya 40 juta dosis di Indonesia sebelum Maret 2021.

Namun demikian, dalam skenario terbaik, produksi dan distribusi batch pertama CoronaVac akan memakan waktu sekitar 6 bulan untuk diselesaikan.

“Kami menginisiasi overweight pada sektor ini, dengan rekomendasi beli pada MIKA (target harga Rp2.900) dan HEAL (target harga Rp4.000),” ungkapnya.

Pihaknya mengekspektasi pendapatan dan laba bersih MIKA akan tumbuh 24 persen dan 31,4 persen sedangkan pendapatan dan laba bersih HEAL akan tumbuh 23,8 persen dan 53,3 persen untuk tahun fiskal 2021.

Risiko perubahan rekomendasi harga saham adalah keterlambatan dalam produksi dan distribusi vaksin, defisit anggaran BPJS Kesehatan yang berkepanjangan dan regulasi terkait JKN yang kurang menguntungkan rumah sakit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Emiten Rumah Sakit covid-19
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top