Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dihantui Resesi, Saham di Sektor Keuangan Berjatuhan

Resesi ekonomi dikhawatirkan menimbulkan tekanan dari sisi likuiditas dan kualitas kredit. Indeks saham sektor keuangan atau JAKFIN terkoreksi 1,97 persen pada sesi Selasa (22/9/2020).
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 22 September 2020  |  17:59 WIB
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com,JAKARTA — Revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal III/2020 yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani semakin menekan laju sektor saham keuangan. 

Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks saham sektor keuangan atau JAKFIN terkoreksi 1,97 persen pada sesi Selasa (22/9/2020). Koreksi itu hanya satu peringkat dibawah sektor saham pertanian dengan koreksi 2,50 persen.

Sektor saham pertanian dan sektor saham keuangan menjadi penekan utama indeks harga saham gabungan (IHSG) perdagangan Selasa (22/9/2020). IHSG harus puas kembali parkir di zona merah dengan koreksi 1,31 persen ke level 4.934,09 saat penutupan perdagangan.

Dalam sesi perdagangan itu, saham emiten perbankan bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV kompak parkir di zona merah. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menjadi sasaran jual investor asing dengan net sell Rp411,1 miliar dan Rp67,5 miliar.

Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani menilai dampak sentimen negatif dari sentimen skandal pencucian uang hanya sementara. Pasalnya, kasus tersebut menurutnya sudah terjadi sejak lama.

“Tekanan sepertinya akan lebih dari proyeksi GDP kuartal III/2020 yang diprediksi minus,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (22/9/2020).

Dalam konferensi pers APBN Kita September virtual Selasa (22/9/2020), Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan minus 2,9 persen—1,0 persen pada kuartal III/2020. Angka itu direvisi dari proyeksi sebelumnya minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen.

Hendriko mengatakan pertumbuhan ekonomi negatif pada kuartal III/2020 sebenarnya telah diprediksi. Namun, konfirmasi yang diumumkan memberikan gambaran perlambatan ekonomi semakin terasa dan potensi pemulihan ekonomi akan semakin melambat.

“Untuk tekanannya berapa lama belum dapat dipastikan tergantung bagaimana perkembangan dan respons dari program pemulihan ekonomi di Indonesia dan dunia,” jelasnya.

Secara terpisah, Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan mengatakan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal III/2020 dari Menteri Keuangan akan semakin menekan IHSG. Sektor perbankan menurutnya akan mengalami tekanan.

“Kalau perekonomian susah pasti kredit akan banyak yang macet dan butuh restrukturisasi. Likuiditas bank akan terganggu,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Resesi
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top