Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Minyak Mentah Menuju Kenaikan Mingguan Terbesar Sejak Awal Juni

Sepanjang pekan ini, minyak mentah WTI telah menguat lebih dari 10 persen, sedangkan minyak Brent telah naik sekitar 9 persen.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 18 September 2020  |  13:29 WIB
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak siap untuk mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak awal Juni didukung sentimen ketegasan Arab Saudi untuk mendorong anggota OPEC+ patuh terhadap kesepakatan pemangkasan produksi.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (18/9/2020) hingga pukul 12.54 WIB harga minyak jenis WTI untuk kontrak Oktober 2020 di bursa Nymex naik 0,56 persen ke level US$41,2 per barel.

Sepanjang pekan ini, harga telah naik sekitar 10 persen kembali ke level US$40 per barel setelah sempat diperdagangkan di kisaran level US$37 per barel.

Sementara itu, harga minyak jenis Brent untuk kontrak November 2020 di bursa ICE menguat 0,58 persen ke level US$43,55 per barel. Sepanjang pekan ini, harga juga telah menguat sekitar 9 persen.

Analis Komoditas Senior VI Investment Corp Seoul Will Sungchil Yun mengatakan bahwa peringatan keras Arab Saudi terhadap sejumlah anggota OPEC+ telah menambah kepercayaan investor.

Apalagi, setelah pasar dihadapkan sentimen penurunan tidak terduga terhadap persediaan minyak AS sehingga semakin mendorong harga menguat di akhir pekan ini.

“Tapi ini mungkin sementara karena kami membutuhkan sinyal yang kuat dan konsisten bahwa pemulihan permintaan yang sebenarnya sedang terjadi,” ungkap Yun.

Untuk diketahui, dalam pertemuan virtual OPEC+ pada pekan ini Arab Saudi menunjukkan tekadnya untuk melindungi pemulihan harga minyak dengan mengecam anggota yang telah melakukan kecurangan terhadap kuota produksi.

Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman membuka pertemuan itu dengan kecaman keras untuk anggota yang mencoba melarikan diri dengan memompa terlalu banyak minyak mentah sehingga membanjiri pasar dengan pasokan baru.

Pada pekan ini, menurut laporan International Energy Association, Uni Emirat Arab hampir seluruhnya mengabaikan komitmennya terhadap kuota pemangkasan pada bulan lalu, melanggar kesepakatan.

Selain itu, data pelacakan kapal tanker menunjukkan Irak sejauh ini mengekspor lebih banyak minyak mentah pada September daripada yang dikirim pada bulan sebelumnya, menjadi sebuah tanda bahwa negara itu tertinggal dalam upaya kepatuhannya.

Pasalnya, pasar saat ini masih bersaing dengan pemulihan konsumsi yang tidak merata di dunia, dan OPEC+ melihat adanya risiko pelemahan permintaan dari gelombang kedua pandemi Covid-19, sehingga mendesak setiap anggota untuk proaktif dan siap untuk mengambil tindakan lebih lanjut.

Di sisi lain, Tim Riset dan Analis Monex Investindo Futures dalam publikasi hariannya menilai harga minyak berpeluang untuk pindah pada posisi buy jika harga bergerak di atas level US$40,5 per barel dengan target resisten pertama US$41,8 per barel dan kedua di level US$42,15 per barel.

“Namun, bila menembus level support US$40,5 per barel harga minyak berpeluang sell dengan target US$39,8 per barel,” tulis Monex Investindo Futures dalam publikasi risetnya, Jumat (18/9/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

opec harga minyak mentah
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top