Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Minim Sentimen, Bursa Asia Terjebak di Zona Merah

Indeks Hang Seng Hong Kong tercatat turun paling dalam sebesar 1,74 persen.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 17 September 2020  |  14:21 WIB
Seorang pejalan kaki berjalan melewati papan ticker elektronik yang menampilkan angka harga saham di luar kompleks Exchange Square di Hong Kong. -  Justin Chin / Bloomberg
Seorang pejalan kaki berjalan melewati papan ticker elektronik yang menampilkan angka harga saham di luar kompleks Exchange Square di Hong Kong. - Justin Chin / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Asia ditutup terkoreksi seiring dengan kewaspadaan pelaku pasar yang tinggi menyusul pernyataan Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell atas rebound ekonomi yang tidak pasti tanpa stimulus lebih lanjut.

Dilansir dari Bloomberg, seluruh indeks di wilayah Asia terjerembap ke zona merah. Indeks Hang Seng Hong Kong menjadi pasar dengan koreksi terdalam sebesar 1,74 persen di posisi 24.294,97 disusul oleh indeks Kospi Korea Selatan yang jatuh 1,22 persen di level 2.406,17

Menyusul dibelakangnya adalah indeks S&P/ASX 200 Australia yang anjlok 1,22 persen ke 5.883,19 diikuti Shanghai Composite yang terkontraksi 0,37 persen dan parkir di level 3.271,78.

Sementara itu, indeks Topix Jepang juga ditutup di zona merah setelah turun 0,36 persen ke level 1.638,4.

Kewaspadaan para pelaku pasar terjadi pernyataan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell atas kelanjutan pemulihan ekonomi. Menurutnya, rebound ekonomi global tidak akan berlanjut tanpa adanya stimulus fiskal lebih lanjut.

Pejabat The Fed telah menekankan dalam beberapa pekan terakhir bahwa pemulihan AS sangat bergantung pada kemampuan negara untuk mengendalikan virus corona dengan lebih baik. 

Selain itu, stimulus fiskal lebih lanjut kemungkinan diperlukan untuk mendukung pekerjaan dan pendapatan

 "Pemulihan telah berkembang lebih cepat dari yang diperkirakan secara umum. (Namun) jalan ke depan masih sangat tidak pasti,” kata Powell dalam pidatonya.

Adapun pertemuan bulanan The Fed tersebut merupakan yang terakhir sebelum Amerika Serikat menyongsong pemilihan umum Presiden pada 3 November mendatang,

“Tidak adanya kebijakan baru membuat para pelaku pasar sedikit kewalahan," ujar Stephen Miller, Investment Strategist GSFM.

Gedung Putih dengan kuat mengisyaratkan bahwa pihaknya bersedia untuk meningkatkan tawarannya dalam pembicaraan dengan Partai Demokrat. 

Selain itu, anggota Senat Partai Republika harus ikut serta untuk menyepakati stimulus dalam 7 hingga 10 hari ke depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia Kebijakan The Fed
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top