Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ditinggal Negara Maju, Nasib Gas Alam Seperti Batu Bara?

Kini, pamor gas alam tampak tak jauh berbeda dari barang substitusinya karena muncul sumber energi yang lebih bersih dan murah seperti tenaga surya dan angin.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 10 September 2020  |  11:51 WIB
Fasilitas terminal dan pengelolaan gas terapung (Floating Storage and Regasification/FSRU) gas alam cair (LNG) Lampung PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Istimewa - PGN
Fasilitas terminal dan pengelolaan gas terapung (Floating Storage and Regasification/FSRU) gas alam cair (LNG) Lampung PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Istimewa - PGN

Bisnis.com, JAKARTA - Pamor gas alam tampak tak jauh berbeda dari barang substitusinya karena muncul sumber energi yang lebih bersih dan murah seperti tenaga surya dan angin. Padahal  dahulu gas alam sangat diminati oleh negara maju karena merupakan komoditas energi yang lebih bersih ketimbang batu bara. 

Permintaan yang berkurang sementara pasokan melimpah membuat harga gas alam bertahan di level terendah dalam sedekade terakhir. Mengutip Bloomberg pada Rabu (9/9’2020) pukul 14.55 WIB, harga gas alam kontrak pengiriman Oktober 2020 tercatat turun 0,79 persen ke level US$2,381 per mmtb di Bursa New York Merchantile.

Sehari sebelumnya, harga merosot 7,26 persen dan sejak awal bulan harga gas alam berjangka terkoreksi 5,83 persen. Pada tahun ini, harga gas alam menyentuh level terendah dalam sedekade terakhir sebesar US$1,725 tepatnya pada 26 Juni 2020.

Head of Commodity Research di Legal & General Investment Management Ltd. Nick Stansbury mengatakan pembakaran dan kebocoran metana di gas alam telah merusak citra komoditas yang mengeluarkan emisi karbon dioksida lebih rendah daripada batu bara ini.

Investor pun kini menggeser alokasi dananya untuk proyek energi yang lebih sesuai dengan kesepakatan perubahan iklim Paris Agreement.

“Perusahaan gas tampak menyepelekan opini publik yang berubah sangat cepat. Lockdown virus corona juga memiliki peran besar dalam menyebabkan pergerseran itu,” kata Stansbury di London, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (9/9/2020).

Beberapa tahun lalu, gas alam diagung-agungkan sebagai penanda transisi menuju ekonomi hijau dengan energi terbarukan. Belakangan, sentimen yang menyelimuti gas alam hampir sama seperti batu bara yang terkenal sebagai energi paling kotor.

Berdasarkan data Fossil Free, kini terdapat lebih dari 1.200 institusi yang mengelola dana lebih dari US$14 triliun telah menarik diri dari proyek bahan bakar fosil. Jumlah tersebut naik dari 181 institusi yang mengelola dana lebih dari US$50 miliar lima tahun lalu.

Di Amerika Serikat, sebenarnya gas alam mendapat dukungan dari Presiden AS Donald Trump. Pendanaan untuk konstruksi pipa gas di Pesisir Atlantik senilai US$8 miliar telah disetujui. Tetapi, saat ini proyek pembangunan pipa gas senilai US$10 miliar bahkan telah dibatalkan karena alasan lingkungan dan prioritas anggaran.

Tak berbeda, di Eropa juga terjadi perdebatan sengit mengenai kelanjutan pembangunan jalur pipa gas alam dari Rusia ke Jerman oleh Nord Stream AG. Berbeda dengan di AS, perdebatan di Eropa lebih fokus pada tensi geopolitik alih-alih untuk menyelamatkan lingkungan.

Namun, pemerintah di Eropa terus mempertimbangkan untuk mengambil sumber energi berbeda pada era setelah pandemi yaitu energi yang lebih hijau. 

Bloomberg mencatat para pemimpin di Benua Biru telah menyepakati rencana ambisius untuk melawan perubahan iklim yaitu investasi senilai lebih dari 500 miliar euro untuk proyek hijau. 

“Intensifitas dan keperluan telah bergeser ke sumber energi yang berseberangan dengan gas alam,” kata CEO CNX Resources Corp. Nicholas Deluliis.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara gas alam Donald Trump
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top