Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Laba Bersih Tergerus 99 Persen, Ini Penjelasan Manajemen Ramayana (RALS)

Perusahaan menjelaskan penyebab dari realisasi laba yang tergerus hingga Rp5,36 miliar pada semester pertama, dibandingkan dengan laba periode tahun sebelumnya sebesar Rp589,83 miliar.
Gerai Ramayana Prime di Cibubur. - Bisnis - Novita Sari Simamora
Gerai Ramayana Prime di Cibubur. - Bisnis - Novita Sari Simamora

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten ritel PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RALS) akhirnya buka suara perihal alasan laba bersih perseroan yang tergerus 99,1 persen sepanjang semester pertama tahun ini.

Realisasi ini setara dengan laba Rp5,36 miliar, menurun drastis jika dibandingkan dengan laba periode tahun sebelumnya sebesar Rp589,83 miliar.

Berdasarkan rilis pers yang diterima Bisnis usai paparan publik, Selasa (8/9/2020), manajemen emiten berkode saham RALS tersebut mengakui pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak awal bulan Maret lalu telah berdampak sangat signifikan terhadap kegiatan operasional perseroan terkhususnya pada kuartal kedua tahun ini.

Disebutkan, perseroan telah menutup sementara 94 gerainya dari akhir bulan Maret dikarenakan adanya peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

“Pembukaan kembali gerai Ramayana yang prospektif dan di daerah non-PSBB dilakukan secara bertahap sejak pertengahan bulan April, dan sampai dengan tanggal 30 Juni, Ramayana telah mengoperasikan kembali 105 gerai dari total 118 gerai,” tulis manajemen dalam keterangan persnya.

Di sisi lain, pembatasan jam operasional gerai, terutama gerai yang terletak di mall/pusat perbelanjaan, serta menurunnya daya beli masyarakat akibat berkurangnya pendapatan dan Pemutusan Hubungan Kerja / PHK juga turut berdampak negatif terhadap performa perseroan sepanjang semester pertama tahun 2020.

Sepanjang semester pertama tahun 2020, perseroan mencatatkan penjualan kotor sebesar Rp2,2 triliun, turun 58,3 persen dari Rp5,27 triliun pada semester pertama tahun 2019.

Penjualan kotor khusus pada kuartal kedua tahun 2020 menyumbang penurunan terbesar sebanyak 77,5 persen imbas dari penutupan gerai, pembatasan jam operasional gerai, serta menurunnya daya beli masyarakat. Padahal, kuartal kedua merupakan periode yang sangat krusial bagi Ramayana, dimana terdapat musim lebaran yang berkontribusi sangat besar terhadap penjualan dan laba Perseroan.

Total laba kotor yang diperoleh perseroan pada semester pertama tahun ini sebesar Rp613,73 miliar atau mencerminkan marjin laba kotor 28,0 persen. Sementara, laba kotor tersebut mengalami penurunan sebesar 60,9 persen dari besaran laba kotor Rp1,57 triliun pada periode yang sama tahun lalu, atau mencerminkan marjin laba kotor 29,8 persen.

“Penurunan marjin laba kotor tersebut disebabkan oleh meningkatnya kontribusi penjualan supermarket dengan marjin laba kotor yang lebih rendah,” sambung manajemen.

Untuk menindaklanjuti penurunan penjualan dan laba kotor, perseroan mengambil langkah untuk melakukan kontrol ketat dan efisiensi terhadap biaya operasional secara menyeluruh, termasuk upaya untuk mendapatkan keringanan biaya sewa dari pihak developer.

Lebih lanjut dijelaskan manajemen bahwa total biaya operasional RALS pada kuartal kedua turun sebesar 52,9 persen menjadi Rp256 miliar, dari Rp543 miliar pada kuartal kedua tahun lalu. 

 

PEMBAGIAN DIVIDEN

Sejak penawaran umum pertama pada tahun 1996, RALS menyatakan telah membagikan dividen kas kepada para pemegang saham dengan tingkat persentase antara 21 persen sampai 67 persen dari laba bersih tahun sebelumnya.

Pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diadakan pada tanggal 14 Agustus 2020 lalu, telah diputuskan perseroan kembali membagikan dividen kas sebesar Rp337 miliar atau Rp50 per lembar saham, setara dengan 52,0 persen dari laba bersih tahun 2019.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper