Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tren Belanja Modal Rendah Emiten Berpotensi Berlanjut Hingga 2021

Sebagian besar emiten memilih memangkas anggaran belanja modal pada tahun ini seiring dengan banyaknya ketidakpastian akibat pandemi Covid-19.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 30 Agustus 2020  |  17:31 WIB
Layar elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (12/8/2020). - Bisnis/Abdurachman
Layar elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (12/8/2020). - Bisnis/Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA — Tren belanja modal yang rendah oleh emiten diyakini akan tetap bertahan hingga tahun depan seiring dengan banyaknya tantangan bisnis akibat pandemi Covid-19.

Untuk diketahui, mayoritas emiten kompak memangkas target alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) 2020 seiring dengan banyaknya tantangan bisnis akibat pandemi Covid-19.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bisnis, pemangkasan capex dilakukan lintas sektor mulai dari emiten kelas teri hingga kelas kakap sekalipun. Di sektor konstruksi misalnya, PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) memangkas capex 2020 sekitar 46 persen dari semula sebesar Rp5,4 triliun menjadi Rp2,9 triliun.

Bahkan, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) memangkas panduannya hingga 80 persen dari target awal Rp11,5 triliun menjadi hanya sebesar Rp2,39 triliun.

Salah satu entitas usahanya, PT Wijaya Karya Beton (Persero) Tbk. (WTON) juga menurunkan capex tahun ini hingga 60 persen menjadi hanya Rp377,13 miliar, dari alokasi awal Rp948 miliar.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan akan terdapat banyak perusahaan tercatat yang mengkalkulasi ulang rencana bisnis hingga tahun depan, seiring dengan banyaknya ketidakpastian bisnis saat ini.

Dia menjelaskan perusahaan akan tetap ekspansif, hanya saja menyesuaikan dengan kondisi pasar dan permintaan. Contohnya, menargetkan membuka 5 toko baru tetapi ditunda menjadi 2 toko terlebih dahulu.

Dengan demikian, tren alokasi belanja modal lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya akan berlanjut hingga tahun depan.

“Saat ini, langkah ekspansi perseroan cenderung mengurangi capex yang mungkin berlanjut ke kuartal I/2021. Perusahaan akan cenderung menunda ekspansinya dan lebih memilih optimalisasi aset ketimbang agresif dalam pengembangan bisnis,” papar Reza kepada Bisnis, Minggu (30/8/2020).

Dia menilai perusahaan di sektor industri yang terkait barang konsumsi, termasuk makanan dan minuman, telekomunikasi, dan farmasi, akan dapat mempertahankan rencana ekspansinya di tengah situasi saat ini.

Emiten seperti INDF, ICBP, UNVR, KLBF, INAF, KAEF, TLKM, dan EXCL diyakini menjadi sejumlah emiten yang mendapatkan keuntungan momentum melanjutkan ekspansi pada 2020.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Bobby Gafur Umar menilai bisnis usaha masih dibayangi ketidakpastian seiring dengan terus meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia.

Dia menjelaskan hanya beberapa sektor tertentu yang dapat tetap ekspansif di tengah situasi saat ini, seperti ritel modern dan sektor yang sangat terkait dengan teknologi.

“Namun, perusahaan secara umum cenderung menahan capex dan pasti semuanya sekarang juga sedang tahan napas. Semua bisnis kuncinya adalah [ditemukannya] vaksin Covid-19,” tutur Bobby kepada Bisnis, Minggu (30/8).

Dia menjelaskan perusahaan tercatat kini akan lebih mencermati risiko bisnis yang terukur, sehingga cenderung wait and see agar dapat tetap bertahan di tengah banyaknya tantangan akibat pandemi Covid-19.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emiten belanja modal Virus Corona
Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top