Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Reksa Dana Mulai Pulih, Akankah Bertahan Hingga Akhir Tahun?

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per akhir Juli 2020, dana kelolaan atau nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp504,00 triliun. Ini merupakan pertama kalinya NAB reksa dana kembali menembus kepala lima, setelah anjlok hingga Rp471,87 triliun pada Maret lalu.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 26 Agustus 2020  |  19:24 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja reksa dana mulai pulih secara bertahap, baik dari sisi dana kelolaan maupun dari sisi imbal hasil. Kondisi ini dinilai bakal bertahan hingga akhir tahun.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per akhir Juli 2020, dana kelolaan atau nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp504,00 triliun. Ini merupakan pertama kalinya NAB reksa dana kembali menembus kepala lima, setelah anjlok hingga Rp471,87 triliun pada Maret lalu.

Pencapaian dari sisi NAB tersebut tidak mendadak, melainkan secara bertahap dari bulan-bulan sebelumnya. Pada akhir Juni, NAB reksa dana tercatat sebesar Rp482,54 triliun, juga bertumbuh dari NAB per akhir Mei yang sebesar Rp474,20 triliun.

Dari sisi kinerja, mengacu pada data Infovesta Utama per 24 Agustus 2020, sepanjang bulan berjalan (month to date) seluruh jenis reksa dana mencatatkan kinerja positif. Kinerja reksa dana saham menjadi yang paling tinggi yakni 2,35 persen.

Kemudian diikuti oleh reksa dana campuran 1,51 persen, reksa dana pendapatan tetap 1,09 persen, dan reksa dana pasar uang 0,32 persen.

Namun jika dilihat secara year to date, reksa dana saham masih belum berhasil membalikkan keadaan dengan membukukan kinerja -17,9 persen, begitu pula dengan reksa dana campuran dengan kinerja -7,81 persen.

Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai kinerja reksa dana sudah jauh lebih baik dari posisi Maret dan April, yang mana reksa dana pendapatan tetap bahkan pernah ikut membukukan kinerja negatif.

“Masih minus tapi itu sudah lebih baik, karena market itu kan melihat ke depan. Jadi nggak apa-apa sekarang nggak begitu baik, tapi ada tren yang bisa dilihat ke arah positif,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Rabu (26/8/2020)

Dia menyebut optimisme pasar mengenai perkembangan vaksin dan pemulihan ekonomi membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) dan yield obligasi terus menunjukkan penguatan selama paruh kedua tahun ini.

Kemarin beberapa emiten juga lapkeunya di atas prediksi. Ini memberi tanda bahwa ekonomi itu mengarah menuju lebih baik. Itu sudah bisa menjadi katalis positif,” tambah Wawan,

Meskipun demikian, Wawan menilai hal tersebut belum bisa mendongkrak kinerja reksa dana saham kembali ke zona positif karena koreksi yang terlampau dalam. Dia memperkirakan kinerja reksa dana saham bisa menguat ke minus 15 persen di akhir tahun.

“Perkiraan sekitar minus 15 persen, tapi semua tergantung IHSG. Kami menargetkan IHSG di level 5.500,” katanya.

Sementara untuk reksa dana pendapatan tetap, dia menargetkan kinerjanya dapat mencapai 7—8 persen, reksa dana pasar uang sekitar 4 persen, dan reksa dana campuran bisa positif atau negatif di angka kecil tergantung kinerja saham.

“Yang paling on track sesuai prediksi awal tahun itu pendapatan tetap. Jadi saya percaya tahun ini juaranya pendapatan tetap,” tukas Wawan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

reksa dana
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top