Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Neraca Dagang Surplus, IHSG Menguat, Rupiah Masih Saja Melemah

Rupiah telah melemah selama delapan perdagangan berturut-turut di tengah kinerja mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS.
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) dan Rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (22/7/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) dan Rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (22/7/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Selasa (18/8/2020) kendati neraca dagang periode Juli kembali surplus. Dengan demikian, rupiah genap berada di zona merah selama delapan hari perdagangan berturut-turut.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 13.24 WIB rupiah terpantau terkoreksi 0,35 persen atau 56,5 poin ke level Rp14.815,5 per dolar AS. Rupiah tampak belum mampu untuk keluar dari belenggu zona merah, kendati mayoritas mata uang Asia lainnya berhasil bergerak menguat melawan dolar AS.

Padahal, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak melemah 0,213 persen ke level 92,638.

Adapun, rupiah telah bergerak melemah selama delapan hari perdagangan berturut-turut tren surplus neraca perdagangan Indonesia berlanjut pada Juli 2020, di tengah pandemi Covid-19.

Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Juli 2020 mengalami surplus US$3,26 miliar, lebih rendah dari sebelumnya US$1,27 miliar pada Juni 2020.

Nilai ini diperoleh dari posisi nilai ekspor US$13,73 miliar yang lebih tinggi dari dengan impor yang mencapai US$10,47 miliar selama Juli 2020.

BPS melaporkan ekspor Juli 2020 mencapai US$13,73 miliar atau naik 14,33 persen Juni 2020. Namun, ekspor secara tahunan mengalami penurunan 9,90 persen dari US$15,24 miliar pada Juli 2019.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan signifikan seiring dengan rilis surplusnya neraca perdagangan dan neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada Selasa (18/8/2020).

Pada akhir sesi I, IHSG ditutup menguat 1,28 persen atau 67,22 poin menjadi 5.314,91, setelah bergerak di rentang 5.243,99 - 5.316,13.

Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan bahwa pekan ini minat investor tampaknya masih akan berpihak kepada aset investasi aman selain dolar AS, seperti US Treasury dan mata uang swiss franc dibandingkan dengan aset berisiko seperti rupiah.

Selain itu, rupiah diyakini kembali tidak dapat memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS seiring dengan munculnya banyak ketidakpastian menjelang padatnya agenda ekonomi pekan ini.

“Seharusnya dolar AS itu jadi katalis positif bagi rupiah untuk berbalik menguat, tetapi momentumnya pekan ini begitu banyak agenda ekonomi penting yang akan menjadi penentu penggerak pasar,” ujar Josua kepada Bisnis, Senin (17/8/2020).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah
Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper