Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sempat Melemah, Harga Emas Masih di Jalur Menuju Rekor Tertinggi

Banjir likuiditas di dalam sistem keuangan akan meyakinkan investor untuk terus mengoleksi aset safe haven seperti emas.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 13 Agustus 2020  |  15:59 WIB
Emas batangan cetakan PT Aneka Tambang Tbk. Harga emas 24 karat Antam dalam sepekan terakhir mengalami lonjakan hingga menyentuh hampir Rp1 juta per gram. - logammulia.com
Emas batangan cetakan PT Aneka Tambang Tbk. Harga emas 24 karat Antam dalam sepekan terakhir mengalami lonjakan hingga menyentuh hampir Rp1 juta per gram. - logammulia.com

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas di pasar spot kembali menguat setelah sempat tertekan pada awal pekan, didorong oleh keyakinan investor terkait dengan rekor reli harga emas pada tahun ini.

Berdasarkan data Bloomberg pada perdagangan Kamis (13/8/2020) pukul 15.22 WIB, harga emas di pasar spot menguat 0,69 persen ke level US$1.929 per ons troi. Di sisi lain, harga emas berjangka Comex kontrak pengiriman Desember 2020 masih melemah tipis 0,45 persen ke level US$1940 per ons troi.

Kepala Riset Mirae Asset Sekuritas Hariyanto Wijaya masih mempertahankan perkiraan bullish untuk komoditas emas kendati harga mulai berfluktuasi dalam beberapa sesi perdagangan.

“Kami melihat akan banyak likuiditas yang disuntikkan ke sistem keuangan. Sebagai gambaran, aset perbankan negara G4 telah mencapai US$6 triliun secara year-to-date,” tulis Hariyanto dalam riset terbarunya, seperti dikutip pada Kamis (13/8/2020).

Dari US$6 triliun tersebut, Hariyanto menunjukkan Bank Sentral AS (Federal Reserve) merupakan kontributor paling besar senilai US$2,7 triliun.

Dia juga menjelaskan bahwa banjir likuiditas di dalam sistem keuangan akan meyakinkan investor untuk terus mengoleksi aset safe haven seperti emas.

Pasalnya, investor bisa khawatir uang akan kehilangan nilai ketika bank sentral terus-menerus menggelontorkan stimulus.

Sebelumnya, harga emas sempat terkoreksi pada Selasa (12/8/2020) karena investor melakukan aksi ambil untung atau profit taking dan muncul sentimen penemuan vaksin Covid-19 di Rusia.

Kendati demikian, logam mulia dan turunannya masih menjadi kelompok komoditas dengan performa terbaik pada tahun ini.

Senior Market Analyst Oanda Corp. Edward Moya menyampaikan pergerakan harga emas yang berfluktuasi cenderung menguat masih akan bertahan lama karena yield obligasi terlalu volatil pada musim panas tahun ini.

“Laju penguatan harga emas bisa menjadi moderat, tetapi outlook-nya masih akan menuju rekor tertinggi,” kata Moya seperti dikutip Bloomberg, Kamis (13/8/2020).

Adapun, real yield yang berada di teritori negatif dan stimulus yang diberikan pemerintah untuk menahan dampak negatif pandemi telah menjadi amunisi penguatan harga emas.

Goldman Sachs Group Inc. bahkan memosisikan emas saat ini sebagai mata uang terakhir yang akan diburu investor ketika inflasi dikhawatirkan menggerus nilai dolar AS. Goldman Sachs memperkirakan harga emas akan terus menguat menembus US$2.000 per troi ons.

Penguatan harga emas kali ini juga seiring dengan perundingan stimulus fiskal di Amerika Serikat yang belum menemukan titik tengah.

Dua komentar dari Bank Sentral AS (Federal Reserve) terkait dengan kelalaian pemerintah AS menahan dampak pandemi pun membuat investor khawatir mengenai prospek pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emas Harga Emas Hari Ini federal reserve
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top