Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pekan Depan IHSG Cenderung Melemah, Berisiko Tinggalkan 5.000?

Pada pekan depan IHSG diprediksi cenderung konsolidasi melemah.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 09 Agustus 2020  |  08:22 WIB
Pengunjung melihat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (3/8/2020). Pada penutupan perdagangan awal pekan, IHSG ditutup melemah 2,78 persen atau 143,4 poin ke level 5.006,22. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung melihat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (3/8/2020). Pada penutupan perdagangan awal pekan, IHSG ditutup melemah 2,78 persen atau 143,4 poin ke level 5.006,22. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada pekan depan dengan level support 5.059-4.928.

Indeks harga saham gabungan tersungkur ke zona merah tertekan aksi jual investor asing pada sesi Jumat (7/8/2020).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks harga saham gabungan (IHSG) turun 0,66 persen ke level 5.143,89 pada akhir sesi Jumat (7/8/2020). Sebanyak 163 saham menguat, 263 saham terkoreksi, dan 159 saham stagnan.

Total nilai transaksi di seluruh papan perdagangan mencapai Rp9,90 triliun. Investor asing membukukan net sell senilai Rp1,33 triliun.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan pada pekan depan IHSG diprediksi cenderung konsolidasi melemah dengan support di level 5.059 sampai dengan 4.928 dan resistan di level 5.200 sampai 5.250.

"Peningkatan kasus Covid 19 masih menjadi perhatian pelaku pasar selama belum ditemukan vaksin yang efektif. Kekhawatiran lebih ke potensi ganguan pemulihan ekonomi akibat pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran virus," paparnya, Minggu (9/8/2020).

Dari sentimen global, Hans menyebutkan memanasnya konflik China dan AS menjadi perhatian pelaku pasar. Hal ini menyusul Trump melarang setiap transaksi USA dengan raksasa teknologi dari China ByteDance (pembuat aplikasi Tik Tok) dan Tencent (pembuat aplikasi WeChat) selama 45 hari.

Pasar khawatir bila China melakukan pembalasan dengan memblok aplikasi dari AS seperti Apple atau Microsoft.

Selain itu, pelaku pasar menantikan kelanjutan paket stimulus AS untuk mengantisipasi pandemi Covid-19. Bila dicapai kesepakatan akan menjadi amunisi baru untuk penguatan IHSG. Bila tidak dan negosiasi lama maka pasar akan merespon dengan negatif. 

Data lapangan kerja Amerika Serikat terlihat lebih baik dari perkiraan pelaku pasar. Ini menjadi sentimen positif bagi pasar, tetapi belum menunjukan tanda-tanda pemulihan ekonomi secara keseluruhan. 

Laba korporasi AS yang lebih baik dari konsensus pasar menjadi sentimen positif. Hal ini sudah menjadi pendorong kenaikan IHSG dan harga saham dalam beberapa minggu terakhir ini.

Data China secara umum mengkonfirmasi negara tersebut ekonominya sudah mulai pulih sesudah lockdown sebelumnya. Hal ini menjadi sentimen positif bagi harga ekuitas dan membantu kenaikan harga komoditas.

Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang tidak terlalu baik pada kuartal II/2020 dengan kontraksi 5,32 persen. Namun, pasar mengalihkan perhatian pada harapan pertumbuhan pada kuartal III/2020.

:Harapan perbaikan ekonomi di kuartal III didapat dari data yang menunjukan terjadi pertumbuhan penyaluran kredit dan penjualan kendaraan," papar Hans.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG saham Indeks BEI
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top