Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Bikin Sektor Penebangan dan Jalan Tol Limbung, Ini Dampaknya ke Produk KIK EBA

Sektor penerbangan dan jalan tol yang menjadi aset dasar produk investasi KIK EBA mengalami tekanan kuat akibat dampak pandemi Covid-19.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 04 Agustus 2020  |  19:28 WIB
Pilot dan kru pesawat memberi penghormatan terakhir kepada pesawat Garuda Boeing 747-400 di Hanggar 4 GMF Aero Asia, Tangerang, Banten, Senin. Garuda Indonesia menyatakan akan tetap memenuhi kewajiban pembayaran Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK) EBA dengan menyesuaikan kondisi likuiditas perseroan saat ini. - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Pilot dan kru pesawat memberi penghormatan terakhir kepada pesawat Garuda Boeing 747-400 di Hanggar 4 GMF Aero Asia, Tangerang, Banten, Senin. Garuda Indonesia menyatakan akan tetap memenuhi kewajiban pembayaran Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK) EBA dengan menyesuaikan kondisi likuiditas perseroan saat ini. - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Produk investasi alternatif seperti efek beragun aset ternyata tidak kebal terhadap dampak pandemi virus corona (Covid-19). Dua produk kontrak investasi kolektif efek beragun aset atau KIK EBA mengalami tekanan seiring penurunan kinerja pada aset yang menjadi underlying.

KIK EBA Mandiri GIAA01 dan KIK EBA Mandiri JSMR01 mencatat penurunan pendapatan. KIK EBA Mandiri GIAA01 mencatat penurunan pendapatan investasi 56 persen menjadi Rp76,88 miliar dengan posisi rugi Rp1,06 miliar.

KIK EBA Mandiri GIAA01 merupakan produk KIK dengan underlying aset dari pendapatan tiket PT Garuda Indonesia Tbk. untuk enerbangan rute Jeddah dan Madinah berjangka 5 tahun. Pembayaran cicilan pokok produk ini bahkan sempat tertunda.

Sementara itu, KIK EBA Mandiri JSMR01 juga mencetak penurunan pendapatan investasi sebesar 60 persen dengan posisi laba Rp11,09 miliar. Underlying produk ini adalah pendapatan Jasa Marga untuk ruas Jagorawi.

Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan produk KIK-EBA pada dasarnya bukan produk berisiko tinggi karena menggunakan underlying asset yang kuat, seperti tagihan berkala maupun pendapatan masa depan (future income) yang hampir pasti.

“Proses pemilihan [underlying asset] juga saya kira cukup ketat pertimbangannya, jadi seharusnya aman-aman saja,” ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (4/8/2020).

Namun, kejadian luar biasa seperti pandemi Covid-19 membuat risiko investasi menjadi meningkat dan memunculkan kejadian yang tidak diprediksi sebelumnya. Dia mencontohkan KIK EBA Mandiri GIAA01 terancam gagal bayar karena pendapatan dari tiket nihil akibat penghapusan penerbangan haji.

“Padahal waktu EBA Garuda ini diterbitkan, itu dianggap super aman karena penjualan tiketnya untuk keberangkatan haji. Garuda Indonesia kan setiap tahun pasti ada memberangkatkan jamaah haji,” tutur Wawan.

Meskipun demikian, Wawan menilai prospek untuk KIK-EBA masih potensial. Terutama untuk EBA yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan cashflow yang kuat masih aman untuk saat ini meski ada risiko pemasukan perusahaan penerbit terganggu karena dampak Covid-19.

“Kalau bicara tentang EBA ini tergantung kepada underlying asset-nya. Tidak berarti semua EBA itu jelek tahun ini,” tutur Wawan.

Adapun, beberapa EBA lainnya yang terdaftar di KSEI memiliki aset dasar seperti tagihan kredit pensiunan, putang korporasi, KPR, piutang usaha, dan pendapatan jalan tol.

Untuk EBA dengan underlying asset KPR, Wawan menilai risikonya juga tengah meningkat karena ada potensi nasabah yang mengalami kesulitan untuk membayar KPR pada masa pandemi. Belum lagi, perbankan juga dihadapkan dengan ancaman tingginya tingkat kredit macet (non performing loan/NPL).

Dengan demikian, Wawan menyarankan kepada investor untuk terus mencermati keberlangsungan usaha dari emiten penerbit EBA, terutama dari sisi aliran kas perusahaan dan bukan hanya dari proyeksi pendapatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kik eba Garuda Indonesia jasa marga
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top