Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

​BNI Sekuritas Pertahankan Target IHSG 5.300, Ini Alasannya

Peningkatan likuiditas secara global dinilai bakal turut mengalir ke pasar saham di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 29 Juli 2020  |  11:52 WIB
Halaman muka website BNI Sekuritas. Anak usaha Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat lonjakan  transaksi via online dalam empat bulan terakhir. Geliat investasi dari kalangan muda turut menambah jumlah investor ritel yang saat ini mencapai 160.000. - bnisekuritas.co.id
Halaman muka website BNI Sekuritas. Anak usaha Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat lonjakan transaksi via online dalam empat bulan terakhir. Geliat investasi dari kalangan muda turut menambah jumlah investor ritel yang saat ini mencapai 160.000. - bnisekuritas.co.id

Bisnis.com, JAKARTA — BNI Sekuritas mempertahankan target IHSG akhir 2020 di level 5.300. Dari posisi saat ini, berarti ada peluang penguatan indeks sekitar 4 persen.

Kepada Divisi Equity Research BNI Sekuritas Kim Kwie Sjamsudin menyampaikan target tersebut berpeluang untuk direvisi naik pada Oktober atau November setelah melihat perkembangan Covid-19 pada kuartal III/2020.

“Kami memiliki pandangan yang positif untuk prospek pasar saham kita sampai akhir tahun target IHSG di level 5.300,” kata Kim di Jakarta, Selasa (28/7/2020).

Saat ini, investor disebut masih belum sepenuhnya percaya diri untuk masuk ke pasar saham. Pasalnya, muncul kekhawatiran hampir di seluruh dunia terkait dengan dampak Covid-19 yang telah menyebabkan resesi.

Dalam rangka mempercepat pemulihan ekonomi pascapandemi, pemerintah maupun bank sentral utama dunia pun sudah banyak menggelontorkan stimulus fiskal dan moneter dalam beberapa bulan terakhir.

Kim menyampaikan peningkatan likuiditas global secara masif sekitar US$15 triliun tersebut merupakan yang terbesar di sepanjang sejarah. Dengan demikian, kebanjiran likuiditas di dunia akan membuat investor lebih berani mengakumulasikan aset berisiko seperti saham.

Adapun, stimulus yang diberikan Bank Sentral AS terhadap perekonomian juga telah melemahkan indeks dolar AS dalam dua buan terakhir.

“Kami perkirakan dolar AS ini masih akan turun karena masifnya stimulus yang diberikan pemerintah maupun bank sentral di AS,” tutur Kim.

Selain didukung likuiditas yang melimpah, suku bunga ril di Amerika Serikat yang masuk ke dalam teritori negatif juga dinilai dapat menunjang kinerja pasar saham setidaknya dalam dua tahun ke depan.

Dari sisi risiko di pasar saham, Kim menyampaikan saat ini sumber kekhawatiran terbesar masih berasal dari perkembangan Covid-19. Apabila vaksin dapat ditemukan sebelum akhir tahun ini, investor tentu akan lebih percaya diri lagi.

Kim memilih BMRI, BBCA, UNVR, INDF, SMGR, dan JSMR sebagai pilihan utama untuk dapat diakumulasikan investor menjelang akhir tahun. 

Adapun untuk saham-saham farmasi, Kim menyebut masih melakukan penilaian karena saham sektor ini sangat sensitif mengikuti perkembangan Covid-19.

“Perusahaan di Perancis sudah tegas mengatakan akan menjual vaksin tanpa keuntungan di masa pandemi. Ini agak sensitif tentunya. Investor harus memperhatikan apakah perusahaan farmasi itu mendapatkan margin atau tidak,” jelas Kim.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top