Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Nikel Membaik, Tantangan Emiten Masih Berat

Meskipun harga nikel sudah menunjukkan penguatan, tapi emiten tambang nikel masih harus menghadapi sentimen dari dampak pandemi Covid-19.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 26 Juli 2020  |  14:16 WIB
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA — Meski harga nikel global sudah mulai menunjukkan pemulihan, tapi emiten nikel dinilai masih menghadapi tantangan yang cukup berat.

Mengacu ke data London Metal Exchange, harga nikel global berada di kisaran US$13.430 per ton pada Jumat (24/7/2020). Harga ini lebih baik ketimbang harga pada Jumat (17/7), yang sebesar US$13.281 per ton dan jauh di atas harga sebulan sebelumnya, yang sebesar US$12.510 per ton.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan secara umum, harga nikel global sesungguhnya sudah mulai pulih dari penurunan akibat sentimen pandemi Covid-19, tetapi tantangan tahun ini masih cukup berat untuk emiten nikel. Perlambatan ekonomi global masih akan menjadi isu utama karena dapat melemahkan permintaan yang berujung kepada tekanan kinerja keuangan perseroan sehingga beberapa inisiatif masih harus dilakukan emiten.

“Jadi PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) kemungkinan masih akan koreksi dan kinerja masih akan dalam tekanan, terlebih ANTM yang kadang tidak konsisten terhadap pengaruh harga, kadang harga baik kinerja keuangannya tapi belum tentu ikut baik,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (23/7).

Senada, Analis Samuel Sekuritas Dessy Lapagu mengatakan pihaknya melihat masih ada potensi rugi selisih kurs oleh ANTM hingga akhir tahun ini, terlebih pada kuartal I/2020 sempat mencatatkan rugi bersih Rp282 miliar. Menurutnya, kendati pendapatan berpotensi naik karena kenaikan harga komoditas emas dan nikel, tetapi beban operasional ANTM masih berpotensi menggerus laba bersih. 

“Sementara itu, untuk INCO, kami lebih moderat cenderung positif. Dari sisi utang juga cukup sehat dan dari produksi pasti akan terserap oleh holdingnya yaitu Vale Canada. Sentimen utama adalah harga nikel, sehingga kami lebih positif untuk INCO,” terang Dessy kepada Bisnis, Jumat (24/7).

Sebelumnya, Direktur Keuangan INCO Bernardus Irmanto mengatakan saat ini, perseroan masih melanjutkan inisiatif efisiensi biaya produksi yang telah dimulai sejak 2018 untuk menjaga margin di tengah fluktuasi harga nikel. Inisiatif terbaru yang dilakukan tahun ini adalah Obeya, inisiatif disruptif yang bertujuan untuk mencari peluang improvement dengan menantang status quo.

Perseroan juga mengimplementasikan Vale Production System, sebuah model manajemen untuk mengikutsertakan karyawan di semua level untuk melakukan perbaikan secara terus menerus guna mencapai keunggulan operasi.

Biaya produksi per unit perseroan hingga Juni 2020 berada di bawah US$7.000 per ton, jauh lebih rendah daripada biaya produksi per unit periode yang sama tahun lalu. Untuk diketahui, realisasi biaya produksi per unit INCO sepanjang 2019 sebesar US$7.500 per ton.

Bernardus menjelaskan bahwa penurunan biaya produksi itu dipengaruhi oleh penurunan harga minyak dan komoditas lain. Selain itu, pencapaian target produksi dan juga inisiatif penghematan biaya juga memiliki kontribusi terhadap penurunan itu.

ANTM juga optimistis dapat meningkatkan margin keuntungan dari bisnis nikel pada tahun ini, seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi global dan tumbuhnya tingkat permintaan nikel.

“Hal tersebut sejalan dengan upaya perseroan untuk meningkatkan daya saing usaha melalui fokus pada upaya penurunan biaya tunai produksi serta implementasi kebijakan strategis terkait inisiatif efisiensi biaya yang tepat dan optimal,” papar Sekretaris Perusahaan Aneka Tambang Kunto Hendrapawoko seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima Bisnis.

Perseroan berhasil mencatatkan biaya tunai produksi feronikel sebesar US$3,33 per pon hingga Juni 2020. Untuk diketahui, berdasarkan studi konsultan Wood Mackenzie, capaian biaya tunai produksi ANTM itu berada di bawah rata-rata produsen feronikel global di kisaran US$4,85 per pon, sehingga perseroan berhasil mengukuhkan posisinya sebagai salah satu produsen feronikel global berbiaya rendah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

antam Nikel vale indonesia tbk
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top