Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Tenaga Kerja Rapuh, Bursa AS Terhempas

Bursa saham Amerika Serikat terguling ke zona merah dan turun tajam pada akhir perdagangan Kamis (23/7/2020), tertekan bangkitnya kekhawatiran mengenai pemulihan ekonomi pascarilis data klaim pengangguran mingguan.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 Juli 2020  |  05:44 WIB
Wall Street. - Bloomberg
Wall Street. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat terguling ke zona merah dan turun tajam pada akhir perdagangan Kamis (23/7/2020), tertekan bangkitnya kekhawatiran mengenai pemulihan ekonomi pascarilis data klaim pengangguran mingguan.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks saham acuan S&P 500 ditutup melemah 1,23 persen atau 40,36 poin ke level 3.235,66, didorong koreksi saham teknologi dan perusahaan yang membuat barang konsumen non-esensial.

Sejalan dengan S&P, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 1,31 persen atau 353,51 poin ke level 26.652,33 dan indeks Nasdaq Composite berakhir anjlok 2,29 persen atau 244,71 poin ke posisi 10.461,42.

Menurut data Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis Kamis (23/7), klaim pengangguran awal mencapai 1,42 juta orang untuk pekan yang berakhir pada 18 Juli atau bertambah sebanyak 109.000 dari pekan sebelumnya.

Jumlah tersebut lebih tinggi dari proyeksi para ekonom dalam survei Bloomberg yang memperkirakan klaim awal akan mencapai 1,3 juta, dengan kisaran proyeksi antara 1-1,55 juta.

Data itu mengindikasikan meningkatnya pemutusan kerja (PHK) ketika lonjakan kasus baru infeksi virus Corona (Covid-19) mendorong sejumlah negara bagian untuk menghentikan pembukaan kembali (reopening).

Peningkatan klaim pengangguran untuk pertama kalinya sejak Maret ini terjadi ketika kongres AS merundingkan paket bantuan baru untuk jutaan warga Amerika yang akan kehilangan tunjangan pada akhir bulan.

Tanda-tanda mengkhawatirkan lain dari perlambatan ekonomi menambah kekhawatiran bahwa pertumbuhan di beberapa daerah akan mandek.

Survei mingguan oleh Biro Sensus menunjukkan jumlah warga Amerika yang dipekerjakan turun sekitar 6,7 juta dari pertengahan Juni hingga pertengahan Juli.

“Pemulihan sudah terjadi, tetapi pasar tenaga kerja benar-benar rapuh. Ini akan membebani pasar dan konsumen untuk waktu yang lama,” kata Kepala investasi di Cetera Financial Group Gene Goldman, dikutip dari Bloomberg.

Sementara itu, saham Twitter menguat setelah melaporkan lonjakan pertumbuhan pengguna harian.

Namun, saham Tesla tergelincir meskipun melaporkan hasil yang lebih baik dari estimasi. Selain itu, saham Alphabet, Amazon.com, dan Apple masing-masing turun lebih dari 3 persen. Saham Microsoft juga terkoreksi setelah pertumbuhan komputasi awan dilaporkan melambat.

Laporan data klaim pengangguran turut memengaruhi indeks Stoxx Europe 600 yang hanya mampu ditutup naik tipis sekitar 0,1 persen. Adapun, Bloomberg Dollar Index melemah hari kelima beruntun.

Di pasar komoditas, harga minyak West Texas Intermediate turun tajam 1,6 persen menjadi US$41,24 per barel dan harga emas menguat 1 persen ke level US$1.882 per troy ounce, level tertinggi dalam sekitar 9 tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi as bursa as wall street
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top