Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menakar Debut Emiten Startup, Bagaimana Prospek Sahamya?

Reli harga saham emiten startup dan teknologi digital dalam tiga bulan terakhir dinilai sebagai bentuk pemulihan setelah harga jatuh cukup dalam pada kuartal II/2020.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 23 Juli 2020  |  22:35 WIB
Direktur Utama Digital Mediatama Maxima Budiasto Kusuma menyerahkan cindera mata kepada Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi setelah resmi mencatatkan saham perseroan dengan kode DMMX di Mainhall BEI, Senin (21/10/2019). - Bisnis - Dwi Nicken Tari
Direktur Utama Digital Mediatama Maxima Budiasto Kusuma menyerahkan cindera mata kepada Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi setelah resmi mencatatkan saham perseroan dengan kode DMMX di Mainhall BEI, Senin (21/10/2019). - Bisnis - Dwi Nicken Tari

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan rintisan atau startup tengah didorong untuk melantai di Bursa Efek Indonesia. Sambil menyelam minum air, kehadiran startup, terutama dari kasta unicorn atau valuasi jumbo bakal menarik investor pemula dari kalangan millennial.

Komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI),Pandu Patria Sjahrir kapitalisasi pasar di bursa masih didominasi perbankan dan telko, tidak berubah sejak 10 tahun lalu. Sementara itu di Amerika Serikat, 10 saham dengan kapitalisasi teratas dihuni perusahaan teknologi.

"Hal itu menjadi tugas kami untuk meyakinkan startup unicorn yang ada di Indonesia untuk masuk bursa. Dengan bergabungnya perusahaan yang bagus, akan menarik para investor milenial untuk berinvestasi," ujar Pandu melalui keterangan tertulis, Rabu (22/7/2020).

Pandu memang punya visi untuk menarik perusahaan startup dan teknologi untuk masuk bursa saham. Pandu yang menjabat posisi komisaris di Gojek dan SEA Group Indonesia mencontohkan kesuksesan SEA Ltd, perusahaan induk Garena dan Shopee. 

SEA sukses melantai di bursa saham New York pada 2017 dan saat ini kapitalisasi pasarnya mencapai lebih dari US$54 miliar atau sekitar Rp789 triliun. Jumlah itu setara 13 persen total kapitalisasi pasar indeks harga saham gabungan (IHSG).

Dia menambahkan, pasar modal Indonesia menjadi wahana yang menarik baik bagi investor maupun perusahaan tercatat. Sejauh ini, belum ada startup kelas unicorn atau decacorn yang berniat IPO di Bursa Efek Indonesia.

Walakin, dalam tiga tahun terakhir jumlah perusahaan rintisan yang melepas saham ke publik bertambah. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, enam dari sepuluh emiten mampu mencetak laba bersih pada periode tiga bulan pertama 2020. 

Sementara itu, kinerja saham boleh dibilang amburadul bila dilihat dalam periode tahun berjalan. Namun, sebagian emiten mencetak kenaikan tajam dalam tiga bulan terakhir atau persis sejak IHSG menyentuh titik nadir pada 23 Maret 2020.

Misal, saham PT M Cas Integrasi Tbk. (MCAS), naik 112,87 persen dalam 3 bulan terakhir. Kemudian PT Digital Mediatama Maxima Tbk. (DMMX) 277 persen dan PT Distribusi voucher Nusantara Tbk. (DIVA) 111,11 persen.

Pada akhir perdagangan Kamis (23/7/2020), hampir seluruh emiten startup bergerak di zona merah sejak awal tahun. Hal itu beriringan dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 18,33 persen year-to-date.

Saham emiten Grup Kresna yaitu PT Digital Mediatama Maxima Tbk. (DMMX) dan PT Telefast Indonesia Tbk. (TFAS) terpantau mencatatkan pelemahan paling minimal dibandingkan yang lainnya masing-masing turun 2,25 persen dan 10,26 persen.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menilai penguatan harga saham emiten startup dan teknologi digital dalam tiga bulan terakhir merupakan bentuk pemulihan setelah harga jatuh cukup dalam pada kuartal II/2020.

“Lebih kepada faktor saham yang naiknya tinggi dan turunnya juga tinggi. Kalau tentang minat investor ke bisnisnya, kami belum melihat itu,” jelas Alfred, Kamis (23/7/2020).

Adapun, Alfred menunjukkan pada kuartal II/2020 beberapa saham emiten start-up dan digital di BEI anjlok cukup dalam. Misalnya saham MCAS dan DIVA yang turun ke sekitar Rp600-an dari posisi awal tahun sekitar Rp2.900-an.

Selain karena faktor pemulihan, Alfred belum melihat penopang yang dapat mempertahankan penguatan saham-saham emiten start up dan digital pada tahun ini. Pasalnya, investor cenderung belum berminat mengoleksi saham startup  di BEI yang memiliki valuasi tinggi dan keberlangsungan bisnis tidak begitu kokoh.

“Jadi, faktor kenaikannya kami perkirakan bukan karena sektor teknologi sedang digandrungi seperti saham-saham teknologi di bursa Wall Street yang naiknya kencang,” tutur Alfred.

Ke depannya, saham emiten start up dan teknologi disebut belum akan menjadi pilihan investasi jangka panjang bagi para investor dan masih cenderung untuk diperdagangkan saja.

Dengan demikian, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dalam mengakumulasikan saham dari kelompok startup ini. Alfred tetap merekomendasikan emiten besar seperti PT Metrodata Electronics Tbk. (MTDL) untuk dicermati dari kelompok emiten teknologi.

Di lain pihak Soochow CSSD Capital Markets (SCCM) merekomendasikan saham DMMX seiring dengan potensi pertumbuhan laba di di tahun-tahun mendatang. Analis SCCM Soh Lin Sin dalam risetnya menyebut laba DMMX dapat terus bertumbuh seiring ekspansi perseroan menambah layarnya. 

Seperti diketahui, DMMX berencana meluncurkan setidaknya 10.000 layar dalam 2-3 tahun ke depan, sesuai dengan inisiatif baru perseroan yakni Smart Detection Solution.  

“Sehingga kami tetap merekomendasikan ‘beli’ dengan target harga Rp290 per saham,” tulis Soh.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top