Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saham Emiten Farmasi Terlampau Bugar, BEI Lakukan Pemantauan

Keperkasaan saham sektor farmasi kali ini dipimpin oleh PT Phapros Tbk. (PEHA), anak usaha PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) dengan kenaikan sebesar 25 persen atau 305 poin ke level Rp1.525.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 22 Juli 2020  |  12:02 WIB
Seorang petugas di Apotik Kimia Farma sedang melihat persediaan barang yang dijual di etalase. - Kimia Farma
Seorang petugas di Apotik Kimia Farma sedang melihat persediaan barang yang dijual di etalase. - Kimia Farma

Bisnis.com, JAKARTA – Saham sektor farmasi kembali bugar hingga penutupan sesi pertama pada Rabu (22/7/2020).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 14,08 poin atau 0,28 persen menuju 5.128,79 pada akhir sesi I, setelah bergerak di rentang 5.112,26 - 5.142,04. Sejumlah saham farmasi mendorong penguatan indeks.

Keperkasaan saham sektor farmasi kali ini dipimpin oleh PT Phapros Tbk. (PEHA), anak usaha PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) dengan kenaikan sebesar 25 persen atau 305 poin ke level Rp1.525.

Penguatan saham PEHA, juga diikuti dengan saham PT Indofarma Tbk. (INAF) yang sudah melejit 24,92 persen diikuti KAEF yang juga meroket 24,78 persen. Praktis, ketiga saham emiten pelat merah tersebut terkena pemberlakuan auto reject atas atau ARA.

Hal ini tak berbeda dari kondisi hari sebelumnya, Selasa (21/7/2020), yang mana saham INAF dan KAEF juga diberi label ARA oleh otoritas dengan kenaikan masing-masing sebesar 24,9 persen dan 24,73 persen.

Direktur Perdagangan dan Penilaian Anggota Bursa BEI Laksono Widodo mengonfirmasi bahwa selama dua hari terakhir memang bursa mengamati pergerakan saham INAF dan KAEF.

“Sejak kemarin, ya (saham INAF dan KAEF terkena ARA). Karena ekspektasi dari vaksin Covid-19 yang diharapkan berhasil,” ujar Laksono kepada Bisnis, Rabu (22/7/2020).

Lebih lanjut, Laksono mengatakan kriteria bursa memberikan stempel unusual market activity (UMA) kepada emiten tidak bisa dibagikan ke publik walaupun pergerakan harga saham adalah salah satu di antaranya.

Di sisi lain, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Kristian S. Manullang mengatakan bursa selalu mengawasi pergerakan transaksi dan harga saham-saham yang ditransaksikan.

“Saat ini memang kami melihat kenaikan harga di saham-saham farmasi. Kami akan melakukan tindakan pengawasan apabila diperlukan,” imbuhnya kepada Bisnis, Rabu (22/7/2020).

Reli saham farmasi dalam dua hari terakhir sebenarnya tidak terlepas dari katalis positif pengembangan vaksin di dalam negeri. Kemarin, Bio Farma menyatakan siap melakukan uji klinis yang melibatkan 1.620 orang relawan pada Agustus 2020.

Bila tidak ada aral melintang, tahap produksi vaksin diharapkan bisa dimulai pada kuartal I/2021. Sementara, KAEF dan INAF menyatakan siap untuk membantu distribusi vaksin yang rencananya bisa diproduksi hingga 250 juta dosis.

Tabel Kinerja Harga Saham Emiten Farmasi

EmitenHarga Penutupan Sesi I (22/7)Kenaikan Harga Saham (22/7)
PEHARp1.52525,00%
INAFRp1.88024,92%
KAEFRp2.14024,78%
PYFARp96516,97%
KLBFRp1.6156,25%
MERKRp3.9402,34%
DVLARp2.2201,37%
SIDORp1.2551,21%
TSPCRp1.4000,36%

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham bursa efek indonesia emiten farmasi
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top