Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rencana Divestasi Jalan Tol Berpotensi Tertunda, Bagaimana Prospek Saham Waskita Karya (WSKT)?

Mirae Asset Sekuritas melaporkan rencana divestasi tertunda karena calon investor potensial meminta penangguhan tahap penawaran. Target harga saham Waskita Karya pun dipangkas. Namun, saham Waskita Karya tetap direkomendasikan untuk dikoleksi investor.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 21 Juli 2020  |  11:29 WIB
Interchange di Jalan tol Kanci-Pejagan. Jalan tol ini dikelola oleh PT Semesta Marga Raya, anak usaha PT Waskita Transjawa Roll Road. Waskita Toll Road memiliki 39,49 persen saham WTTR per 1 April 2020. - wtr.co.id
Interchange di Jalan tol Kanci-Pejagan. Jalan tol ini dikelola oleh PT Semesta Marga Raya, anak usaha PT Waskita Transjawa Roll Road. Waskita Toll Road memiliki 39,49 persen saham WTTR per 1 April 2020. - wtr.co.id

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja keuangan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. dinilai bakal tergerus bila rencana divestasi kepemilikan di badan usaha jalan tol tertunda. Mira Asset Sekuritas memangkas target harga saham emiten konstruksi tersebut seiring risiko penundaaan divestasi konsesi jalan tol.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Joshua Michael dalam risetnya menjelaskan, rencana divestasi berpotensi tertunda seiring permintaan calon investor untuk menangguhkan proses penawaran. Adapun divestasi yang berpotensi tertunda mencakup rencana pelepasan saham di badan usaha jalan tol pemegang konsesi  jalan tol Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang, dan Pasuruan-Probolinggo. Ketiga ruas itu dikelola oleh  anak usaha Waskita Toll Road, yaitu  PT Waskita Transjawa Toll Road (WTTR).

Menurut Joshua, penundaan divestasi berpotensi akan memangkas proyeksi laba bersih yang  diperoleh SSKT. Selain itu, Joshua menurunkan target price WSKT untuk tahun ini menjadi Rp650 dari sebelumnya Rp700. Kendati demikian, ia tetap merekomendasikan investor untuk menahan saham WSKT karena valuasi sahamnya saat ini masih terdiskon.

Joshua memperkirakan, laba bersih WSKT pada 2020 akan berada di kisaran Rp152 miliar, atau turun 58,2 persen dari proyeksi sebelumnya sebanyak Rp364 miliar. Hal tersebut juga akan berdampak pada anjloknya laba bersih perusahaan pada 2021 menjadi Rp121 miliar dari sebelumnya Rp434 miliar.

“Pendapatan pada tahun 2020 tersebut akan tercapai dengan asumsi WSKT melanjutkan divestasi tol Becakayu yang bernilai Rp514 miliar dengan rasio P/B sebanyak 1,25 kali,” jelasnya.

Meski demikian, kabar divestasi ruas jalan tol Cibitung – Cilincing dapat menjadi penopang baru bagi WSKT untuk meningkatkan penerimaan. Saat ini, tingkat kepemilikan WSKT pada ruas tersebut adalah 55 persen dan mereka telah menerima sejumlah letter of intent dari investor potensial.

“Apabila ini terealisasi, penerimaan perusahaan dari divestasi jalan tol akan bertambah Rp415 miliar,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Utama Waskita Karya Destiawan Soewardjono mengatakan divestasi saham di sejumlah badan usaha jalan tol akan menjadi agenda prioritas. Dia menyebut, perseroan siap melepas kepemilikan saham di di tiga jalan tol, yakni Tol Becak Kayu, Tol Kanci—Pejagan, dan Tol Pejagan—Pemalang. Perseroan juga berencana mengurangi porsi kepemilikannya di Tol Cibitung—Tanjung Priok menjadi minoritas.

“Kami harapkan [divestasi] bisa terlaksana pada tahun ini, sehingga bisa mengembalikan ekuitas yang turun,” ujarny awal Juli 2020 lalu..

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jalan tol waskita karya
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top