Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

PASAR OBLIGASI: Investor dan Emiten Kembali Antusias

Berdasarkan data terbaru Bursa Efek Indonesia, sudah ada 30 perusahaan yang siap mencatatkan 36 instrumen obligasi dan sukuk di pasar modal.
Dhiany Nadya Utami & Dwi Nicken Tari
Dhiany Nadya Utami & Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 17 Juli 2020  |  14:37 WIB
Pekerja mengambil gambar pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan ponselnya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/5/2020). Bursa Efek Indonesia mencatat sudah ada 30 perusahaan yang siap mencatatkan 36 instrumen obligasi dan sukuk. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja
Pekerja mengambil gambar pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan ponselnya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/5/2020). Bursa Efek Indonesia mencatat sudah ada 30 perusahaan yang siap mencatatkan 36 instrumen obligasi dan sukuk. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja

Bisnis, JAKARTA — Selera investor maupun korporasi untuk meramaikan pasar surat utang tampak kembali pada semester II/2020. Hal itu tercermin dari jumlah pipeline emisi surat utang di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan mandat yang diterima PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO).

Berdasarkan data terbaru Bursa Efek Indonesia, sudah ada 30 perusahaan yang siap mencatatkan 36 instrumen obligasi dan sukuk di pasar modal. Adapun satu perusahaan dalam daftar tunggu saat ini ada yang menerbitkan lebih dari satu obligasi.

Data tersebut merupakan data sementara dan akan terus berkembang seiring dengan masuknya emiten baru.

Sementara itu, Pefindo pada akhir semester I/2020 telah menerima mandat dari 59 penerbit obligasi dengan rencana emisi senilai total Rp74,16 triliun.

I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, mengakui tren penerbitan obligasi korporasi pada periode enam bulan pertama tahun ini mengalami penurunan. Namun demikian, pada awal semester II/2020 ini minat perusahaan tampak sudah kembali untuk mencari pendanaan lewat pasar surat utang.

“Di pipeline yaitu posisinya perusahaan sudah submit dokumen memperlihatkan tren kenaikan yang signifikan,” kata Nyoman dalam acara Membangun Optimisme Pendanaan Melalui Pasar Modal di Era Pandemi Covid-19, Kamis (16/7/2020).

BEI mencatat emisi obligasi pada semester I/2020 senilai Rp27,7 triliun atau turun 45,47 persen dari emisi pada periode yang sama tahun lalu senilai Rp50,8 triliun.

Penurunan nilai emisi itu seiring dengan turunnya penerbitan instrumen obligasi dan jumlah perusahaan penerbit. Adapun korporasi tampaknya menunda penerbitan karena kondisi pasar yang tidak menguntungkan terutama pada kuartal II/2020.

Namun demikian, hingga 15 Juli 2020, nilai emisi obligasi di BEI naik menjadi Rp33,6 triliun yang berasal dari total 40 emisi obligasi yang dilakukan 28 penerbit sejak awal tahun.

Sumber: Bursa Efek Indonesia, Pefindo

Direktur Investment Banking Capital Market Danareksa Sekuritas Boumedine Sihombing mengatakan pertengan Maret 2020 hingga April 2020 memang merupakan periode terburuk di pasar obligasi karena yield SBN meningkat tajam, ditambah IHSG yang anjlok dan melambatnya aktivitas ekonomi karena PSBB.

Meskipun demikian, dia optimistis di kuartal III/2020 ini jumlah korporasi yang mengemisi surat utang kan kembali marak, dengan besaran emisi yang juga meningkat. Bahkan, Boumedine memproyeksikan volume emisi di kuartal ini dapat menyamai kuartal I/2020.

Pasalnya, dia melihat jelang akhir Mei dan awal Juni kondisi mulai pulih, tak hanya dari sisi yield acuan yang mulai mengalami penurunan, juga dari sisi jumlah issuance dan aktivitas perdagangan yang ada di pasar. Pun, kondisi ini diharapkan terus membaik seiring pemangkasan kembali suku bunga acuan.

“Dukungan dari BI, kebijakan moneter, mulai memberikan perbaikan, membantu confidence level bagi pelaku pasar untuk mulai lakukan transaksi di surat utang,” ujarnya.

Dia menilai korporasi juga terbantu dengan relaksasi yang diberikas Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang mana masa penggunaan buku audit keuangan diperpanjang dari yang semula 6 bulan menjadi 8 bulan, sehingga perusahaan penerbit dapat lebih leluasa untuk masuk ke pasar.

Di Danareksa Sekuritas, saat ini terdapat 10 penerbit yang sedang mengajukan izin efektif ke OJK untuk mengemisi surat utang. Boumediene mengungkapkan nilai total yang ingin dihimpun lewat emisi obligasi itu mencapai lebih dari Rp10 triliun.

Sumber: KSEI, Pefindo


DAYA SERAP

Selanjutnya, kepercayaan diri investor juga dinilai terus meningkat seiring dengan kebijakan moneter yang akomodatif dari BI. Tak hanya itu, Boumedine melihat pada kuartal III/2020 ini potensi penyerapan obligasi juga semakin terbuka bagi emiten yang memiliki rating A/AA, yang mana pada kuartal sebelumnya emiten yang berani masuk hanya yang memiliki rating AA/AAA.

“Di Q2 investor sangat concern dengan asset quality, tapi di Q3 sepertinya ini mulai ada ruang untuk perusahaan yang ada di level A sampai AA untuk bisa masuk pasar,” ujarnya.

Senada, Kepala Riset Fixed Income Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menyampaikan potensi penerbitan dan penyerapan obligasi korporasi akan meningkat pada semester II/2020.

Hal itu ditopang oleh yield SUN yang mulai turun dan pemangkasan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Apabila kedua hal tersebut dibarengi oleh pemulihan ekonomi nasional, sisi permintaan pun bisa semakin tinggi.

“Potensi penerbitan dan penyerapan obligasi korporasi akan meningkat. Tennya sudah terlihat setelah April,” ujar Handy kepada Bisnis.

Dirinya menjelaskan bahwa investor kini mulai percaya diri untuk masuk ke pasar surat utang. Selain prospek pemulihan ekonomi, penurunan yield SBN dan tingkat bunga deposito akan mendorong masyarakat mencari alternatif investasi di pasar modal.

Namun demikian, Handy menekankan investor tetap akan mencermati potensi gagal bayar dari surat utang korporasi. Hal itu akan membuat investor bersikap defensif dan lebih memilih obligasi dengan rating tinggi.

Niken Indriarsih, Kepala Divisi Pemeringkatan Korporasi Pefindo, mengatakan nilai emisi obligasi dari skenario optimistis Pefindo pada tahun ini bisa mencapai Rp100 triliun. Sementara dari skenario pesimistis hanya Rp66 triliun.

Menurutnya, tren suku bunga rendah dan keperluan perusahaan untuk mendanai surat utang jatuh tempo akan menjadi pendorong korporasi menerbitkan surat utang.

“Ada beberapa surat utang yang jatuh tempo dan beberapa perusahaan mungkin refinancing sehingga mereka tetap menerbitkan surat utang di semester II ini,” jelas Niken.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi bursa efek indonesia obligasi korporasi danareksa
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top