Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Simplifikasi Tarif Cukai, Emiten Rokok Mana yang Paling Diuntungkan?

Program penyederhanaan struktur tarif cukai hasil tembakau dinilai berdampak baik karena simplifikasi strata tarif akan mendorong kenaikan harga produk tembakau kelas bawah.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 17 Juli 2020  |  14:07 WIB
Penjual melayani pembeli rokok di Jakarta, Rabu (19/9/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja
Penjual melayani pembeli rokok di Jakarta, Rabu (19/9/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana simplifikasi struktur tarif cukai hasil tembakau (CHT) yang menjadi salah satu substansi yang akan dimasukkan dalam amendemen UU No. 39/2007 tentang Perubahan Atas UU No. 11/1995 tentang cukai disambut baik oleh emiten tembakau.

Direktur Utama PT Indonesian Tobacco Tbk. (ITIC) Djonny Saksono mengatakan program penyederhanaan struktur tarif cukai hasil tembakau akan berdampak baik karena simplifikasi strata tarif akan mendorong kenaikan harga produk tembakau kelas bawah.

“Tidak mungkin rokok yang di level atas tarif cukainya, akan dimurahkan. Pemasukan ke uang kas negara akan berkurang. Pasti harga yang di bawah ditarik naik ke atas. Jadi harga-harga rokok yang kelas murah akan naik,” ungkap Djonny kepada Bisnis, Kamis (16/7/2020).  

Menurutnya, produk ITIC tidak bersaing langsung dengan produk rokok karena segmentasi produk yang dijual perseroan adalah tembakau iris yang mana konsumen melinting sendiri rokoknya.

Hal ini menjadi keunggulan produk ITIC yang menawarkan substitusi atau alternatif bagi konsumen untuk tetap merokok dengan harga yang murah.

Terkait rencana kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP), Djonny menyebut penyesuaian harga akan tergantung pada seberapa cepat pemerintah akan mengimplementasikan kebijakan tersebut.

“Sangat positif untuk kita (dampaknya). Semoga secepatnya dilaksanakan. Semakin cepat, semakin baik, dan semakin drastis (kenaikan harga jual rata-rata) semakin bagus buat kita,” sambungnya.

Sebagai gambaran, tarif CHT, sesuai ketentuan sebelumnya, setiap tahun akan disederhanakan. Jika saat ini terdapat 10 strata tarif CHT, rencananya sampai dengan 2021 tarif CHT akan dipangkas menjadi 5 strata tarif CHT.

Di sisi lain, analis RHB Sekuritas Michael Wilson Setjoadi menjelaskan bahwa simplifikasi ini sebenarnya akan sangat menguntungkan produsen rokok besar seperti PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) yang menurutnya berada di tier 1.

“Dengan simplifikasi cukai tentunya semua jadi sama. Kalau sekarang tier 2 bayar cukainya cuma Rp300-Rp400 per batangnya. Kalau tier 1 hampir Rp700, berarti hampir separuhnya,” katanya kepada Bisnis, Kamis (16/7/2020).

Menurutnya, hal ini sudah tercermin dari harga jual masing-masing produk rokok. Jika simplifikasi ini diberlakukan, Michael menilai kenaikan harga jual akan lebih berdampak kepada produsen rokok tier 2 dan 3 dengan harga produk yang lebih murah.

Terlebih sentimen tersebut langsung tercermin dari pergerakan saham emiten rokok pada penutupan pasar Kamis (16/7/2020).

Harga saham PT Wismilak Inti Makmur Tbk. (WIIM) tercatat melonjak dengan persentase kenaikan tertinggi sebesar 34,38 persen, diikuti HMSP dan GGRM yang melonjak 8,5 persen dan 6,49 persen. Sayangnya, saham Bentoel Internasional Investama Tbk. (RMBA) bergerak stagnan sedang ITIC malah anjlok 6,6 persen.

Mengenai prospek penjualan, Michael menilai produk rokok tendensinya lebih stabil sama seperti produk mie instan karena tidak terlalu sensitif terhadap pelemahan daya beli konsumen.

Karenanya, ia lebih menjagokan saham GGRM dibandingkan HMSP dalam jangka waktu pendek. Baginya, ekspektasi pendapatan, volume penjualan dan market share GGRM pada kuartal kedua jauh lebih baik dibandingkan HMSP.

“Tapi secara long term, kita lihat dengan adanya harga jual eceran terendah (HET) yang di-set oleh pemerintah, sebenarnya akan menguntungkan HMSP. Kalau kita lihat produk HMSP ada puluhan, sebagian besar produknya lebih premiumnya dibandingkan kompetitornya (GGRM),” jelasnya.

Secara teknikal, analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan pergerakan harga saham GGRM mulai menunjukkan tanda-tanda menuju ke fase akumulasi mengingat beberapa garis MA50 dan EMA50 telah membentuk pola golden cross.

“Di sisi lain, pergerakan harga saham telah berhasil menembus dua batas pada downtrend lines. Akumulasi beli dengan estimasi target harga jangka panjang pada level Rp66.125,” tulisnya dalam publikasi riset sekuritas yang diterima Bisnis, Kamis (16/7/2020).

Bersamaan dengan itu, ia juga menilai pergerakan harga saham HMSP mulai menunjukkan tanda-tanda menuju ke proses uptrend mengingat beberapa garis MA50 dan EMA50 telah membentuk pola golden cross. Sehingga, dia merekomendasikan akumulasi beli saham HMSP dengan estimasi target jangka panjang pada level Rp2.550 – Rp2.560.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hmsp emiten rokok ggrm Cukai Rokok
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top